Suara riang, canda tawa, terdengar lepas,
hampir seluruh teman di ruang kelas, kami semua ikut tertawa, termasuk aku yang
tadi diam, dan sempat mengantuk tiba-tiba bangun dan ikut tertawa. Sebenarnya
aku tidak tahu detail kejadiannya seperti apa, namun aku cuek saja, bergaya
tahu dan ikut tertawa. Tiar, yang duduk disebalah ku masih tertawa, sampai
terpinggkal-pingkal memegang perutnya. Ekspresinya benar-benar lepas.
“Bimo, cepat
keluar lalu cuci muka, bapak tidak mau ada siswa ngantuk dan meremehkan ketika
saya sedang mengajar” terdengar suara
Pak Fuad, tegas memecah suara tawa kami. “jelas-jelas ini pelajaran ekonomi
bukan geografi, enak saja kau malah menggambar pulau di meja dengan air liur mu”
belum sempat pak Fuad selesai berkata, anak-anak sudah tertawa lagi, membuat
suasana kembali ramai. Haha aku juga kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat
ekspresi dari wajah Bimo, yang terlihat lugu dan polos. “sudah-sudah diam
semua, konsentrasi lagi ke pelajaran” suara pak Fuad terdengar keras,
mengendalikan suasana ribut akibat tawa kami. Semua anak-anak di kelas, diam
dan kembali normal. Bimo, dengan muka terlihat kusut, dengan sedikit belepotan
mengusap air liur yang ada dipipi dengan telapak tangan segera keluar meninggalkan
kelas menuju kamar mandi
Bener-benar lucu sekali, kau Bimo.
Benar-benar menggelikan peristiwa tadi, kenapa kau sampai tertidur pas
pelajaran ekonomi, pak Fuad lagi” kata Tiar yang menepuk-nepuk pundak Bimo yang
ada di sebelahnya. Bimo terlihat sedikit jengkel, dan diam tidak langsung
menanggapi kata-kata dari Tiar. Aku yang duduk di sebelah Arya hanya diam, dan
menahan tawa, kulihat Arya juga demikian. Memang lucu jika mengingat peristiwa
tadi.
“ah sudahlah tidak usah dibahas, tidak
lucu tahu” gertak Bimo, sedikit marah dan menyampar kue di depannya. Bimo
mengunyahnya sambil melihat sinis ke arah Tiar.
“he kawan, tidak usah emosi gitu lah,
santai, kami kan teman mu semua, wajarlah jika kami ingin tahu kenapa sampai
kau mengantuk, tidak biasanya bukan kau mengantuk di kelas, sampai ngiler pula”
lagi-lagi Tiar dengan nada terdengar mengejek di kalimat terakhirnya.
Bimo tidak langsung menaggapi masih terus
mengunyah dan mengambil teh botol di depannya. “dengar ya, kalian mau tahu
kenapa aku tadi sampai mengantuk dan tertidur di kelas, “ intonasi Bimo
berubah, seolah dia ingin bercerita, dan ada sedikit rahasia yang
disembunyikannya. Lirikan matanya, mengarah kepada kami semua. Aku yang tadi
hanya diam, jadi ikut mendekat dan penasaran cerita dari Bimo.
“kalian tahu, semalem aku tidak bisa
tidur, gara-gara apa?..” kalimat Bimo berhenti. Dengan santai dia meminum teh
botol di genggaman tanganya, lirikan matanya masih menuju ke arah kami. Dan
kami seperti anak kecil yang penasaran, dengan sabar kami menunggu kelanjutan
cerita dari Bimo. Susana hening sesaat.
“semalem aku, .., jadi gini dengar ya,
sini kalian mendekat aku kasih tau rahasia kenapa tadi malam aku tidak bisa
tidur” intonasi suara Bimo berubah pelan, dan tangannya mengajak badan kami
untuk merapat. Seolah memang ingin menceritakan rahasia besar. Aku dengan
antsusias menurutinya, dan menggeser pantatku untuk mendekat. Susana kantin
siang itu cukup rame. Kami berempat duduk di bangku panjang yang saling
berhadapan dengan satu meja di tengah. Tidak hanya aku, Tiar, dan Arya juga
sama, mereka berdua juga antusias ingin mendengar Bimo kembali bercerita.
“kalian tahu kan, siapa teman kita yang
paling cantik di sekolah?” suara Bimo melanjutkan ceritanya, dengan melirik ke
arah kami.
“Helen maksudnya” kata ku memotong kalimat
Bimo
“ssttt jangan keras, keras.., “dengan
cepat Bimo memberikan isyarat kepadaku untuk tidak berkata terlalu keras.
*****
Aku baru tahu ternyata benar cerita dari
Bimo beberapa waktu yang lalu, aku juga sependapat dengan Bimo. Seperti pagi
ini aku melihatnya di depan gerbang sekolah, bebarengan beberapa siswa yang
juga datang menuju gerbang sekolah, mobil mewah itu menepi di dekat gerbang
sekolah, warnanya bagus sekali, silver berlilauan terkena sinar matahari pagi.
Pintu depan sebelah kiri mobil itu terbuka, ya tidak salah lagi itu Helen.
Gadis pujaan di sekolah kami, beberapa bulan ini namanya sangat terkenal.
Majalah model remaja kota kami yang membuatnya terkenal, ya sejak dia menang
dalam kontes model remaja yang diselenggarakan majalah tersebut. Di sekolah
juga tidak kalah terkenal, tidak salah pula kalau cerita Bimo, yang tidak bisa
tidur itu. Cerita Bimo waktu itu, dia tidak bisa tidur hanya karena terpesona
dan tidak sengaja melihat Helen, dalam sesi pemotrentan, kebetulan Ayah Bimo
memang bekerja disana, dan waktu Bimo menjemput ayahnya dari tempat kerja, Bimo
tidak sengaja melihat Helen. Cerita Bimo ya masih wajar-wajar saja sebenarnya,
siapa pula yang tidak setuju dengan kecantikan Helen bak bidadari itu.
Tampilan Helen pagi ini semakin mempesona,
model rambutnya terurai panjang sedikt bergelombang, kulitnya terlihat cerah,
wajah manisnya lengkap sudah kecantikan Helen. Dan satu lagi yang menambah
kecantikannya adalah kaca mata, ya kaca mata berwarna merah muda itu semakin
menambah kecantikan Helen.
“hoe”..Arya datang disampingku, sampil
menepuk pundakku dari belakang, yang membuatku kaget. Wajahnya yang
cengar-cengir sok manis itu, terlihat akrab menyapaku.
“ada apa, Yan, kau masih penasaran dengan
Helen?” tanya Arya, yang ada disampingku, sambil terus berjalan menuju pintu
masuk gerbang sekolah, dan sosok cantik itu perlahan juga beranjak melangkah
pergi meninggalkan mobil yang mengantarkannya. Lihat jalannya saja sungguh
menarik, tas punggung mungil, menambah elok saja cara berjalan Helen yang
sedikit pengangkat pinggulnya, dan bergoyang ke kanan dan kiri. Sungguh aku
tidak kuat melihatnya cantik sekali.
“Hoe” suara Arya lagi-lagi mengagetkanku,
dan spontan aku yang dari tadi melihat ke arah Helen, tidak memperhatikan apa
yang ada di depanku. Dan “brakk..” suara kepala ku menarabrak pintu kaca saat
melangkah masuk ke dalam lorong sekolah..
“hahahaha, Riyan-riyan, makanya kalau
jalan itu, matanya jangan keman-mana, nah tu kan akhirnya kena juga kau, sampai
pintu kau tabrak segala” Arya mengejeku dengan tertawa senang. Aku masih
kesakitan mengusap kepala ku yang menabrak pintu tadi, untung tidak terlalu
keras. Melirik ke arah Arya yang masih tertawa mengejeku.
Dan saat ingin membalas ejekan Arya tadi,
tiba-tiba Helen berjalan pelan di samping Arya dan sedikit melirik ku, ya Helen
gadis pujaan di sekolah kami itu meliriku, untuk sepersekian detik aku sangat
senang, meskipun hanya lirikan matanya, hilang sudah rasa sakit dikepalaku, ku
balas lirikan matanya dengan senyum, namun dia tidak bereaksi lagi, dan terus
berjalan mendahului kami.
“hoe” gantian aku yang menepuk pundak
Arya, mengangetkannya. Ternyata bukan aku saja yang tersihir kecantikan Helen,
Arya juga, dia juga menghentikan tawa tadi saat sosok cantik itu berjalan
disampingnya. Memperhatikannya terus, mata Arya mengikuti gerakan Helen yang
mendahului kami. Waktu sesat berjalan lambat. Wangi parfum itu, hemm sungguh
wangi sekali.
“hayo, ah ternyata kau juga tersihir
dengan kecantikan Helen, bukan?” goda ku kepada Arya yang dari tadi mengejekku.
“ah, kau ini siapa pula yang tidak
tersihir dengan bidadari manis itu, semua juga sudah tahu, hampir semua anak
cowok se-sekolah juga tahu” jawab Arya ketus.
*****
Hari-hari berlalu, aku, Tiar, Arya, dan
Bimo masih saja membicarakan Helen. Dan tidak ada yang lebih seru untuk tidak
membicarakan Helen. Lagi-lagi Helen, helen dan helen. Di kantin semua cowok
juga rame membicarakan, di kelas, lapangan, ruang guru, lab. Bahasa, ah semua
tempat di sekolah ini rame membicarakan Helen dengan segala kelebihannya.
Helena seperti artis saja. dia bagaikan ikon baru di sekolah, secara tidak
langsung kepopuleran Helen juga membawa nama baik sekolah kami.
“gimana Bim, kita boleh masuk kan ke studio
pemotretan di kantor ayah mu kerja itu” Tiar menggoda Bimo. Aku tahu maksud
Tiar apa, ya sejak terkena virus Helen, kami berempat selalu saja mencari celah
untuk bisa lebih dekat dengan Helen. Tapi diantara kami berempat yang paling
beruntung tetap Bimo, karena Bimo lebih sering ketemu Helen di luar sekolah. Helen
seorang model majalah, ayah Bimo juga bekerja di majalah itu, jadi dengan
banyak alasan Bimo punya banyak kesempatan datang ke tempat bapaknya kerja
meskipun lebih sering menjemputnya jika, ayahnya malas bawa kendaraan.
“hemmm, gini jadi kata ayah ku, besok ada
sesi pemotretan di diluar alias outdoor, so jadi kata ayahku kita boleh lihat
pemotretannya Helen”Bimo bersemangat menjelaskan, kepada kami. Saat kami main
ke rumahnya. Terlihat wajah Tiar mulai bersemangat, senyum ambisi itu.
“wah, asyik dong, besok kita bisa lihat
pemotretannya Helen live alisa langsung” Tiar bersemangat.
“ah kamu Yar, ngarep banget pengin lihat
Helen” celetuk Arya yang dari tadi diam saja.
“gak usah jaim deh Ya, sebenernya kamu
juga pengin lihatkan” balas Tiar kepada Arya.
“udah-udah gak usah saling iri-irian
segala, semua benar” aku menengahi mereka, bila dibairin urusan sepela malah
jadi pertengkaran mulut, tidak enak kan bertengkar di rumah Bimo.
*****
Ke-esokan harinya, kami ber-empat berangkat
ke kantor majalah model itu, untuk meleihat pemotretan Helen. Kami semua sangat
bersemangat, berdandan semaksimal mungkin, suapaya terlihat ganteng dan keren
di depan Helen. Sebenarnya setiap hari kami juga bertemu Helen di sekolah, tapi
kami tidak satu kelas, jadi ketemu paling ya sekedar menyapa, rasanya masih
malu-malu gimana gitu untuk langsung bicara sama Helen. Helen juga anaknya
sedikit pendiem jadi ya, kalau di sekolah kami hanya jadi pemuja rahasia sang
bidadari.
Hari inilah kesempatan kami, untuk
benar-benar lebih dekat dengan Helen. Lebih baik bersaing dengan temen deket
sendiri. Tau kelemahan masing-masing. Kalau bersaing di sekolah kami jelas
kalah modal. Hampir semua cowok di sekolah naksir sama Helen. Sok-sok baik
gitu, pas Helen di kantin sok akrab dengan membelikan minumlah, menawarkan ini
itu lah, Helen malah terlihat cuek saja. dasar cowok perayu.
Setelah sampai di tempat pemotretan, kami
benar-benar kagum melaihat Helen, bergaya di depan kamera, ya meskipun kami
hanya boleh melihat dari jauh, namun tidak terlalu jauh dari jarak pandang
kami. Helen bak artis di TV, bergaya,
dibayang-bayangi lampu blizt kamera dan cahaya dari beberapa lampu pemotretan
Helen semakin apik. ihh, kalau diperhatikan dengan cermat Helen sempurna
sekali. Cantik. Kami seperti mengintip
bidadari, mirip cerita jaka tarub, tapi
bedanya kami mengintip bidadari yang di foto hehe. tidak terasa sudah 2 jam
kami tempat pemotretan juga. Menyimak dengan setail seluruh rangkain pemotretan
ini, mulai dari persiapan, hingga melihat Helen berganti kostum warna-warni
yang menarik itu, sungguh menyenangkan. Dan tidak terasa pula acara pemotretan
Helen sudah hampir selesai.
“gimana seru kan!, untung aku baik pada
kalian dengan mengajak kalian ke tempat kerja ayahku” seru Bimo dengan sombong
kepada kami. Kami tidak lantas menjawab dan hanya saling melirik.
“heh siapa pula yang mengajak kami
kesini?” balas Tiar kepada Bimo tidak mau kalah.
“kau sendiri kan yang menawari kesempatan
ini, melihat sang bidadari katamu, ya kami jelas mau lah, siapa juga yang tidak
mau melihat bidadari secantik Helen” nada Tiar sangat keras sekali melawan.
Kami terus berjalan meninggalkan lokasi
pemotretan, dan tidak sengaja pula dibelakang kami ternyata ada Helen yang
berjalan pelan.
“Eh, ternyata kalian disini, sejak kapan,
aku kok baru lihat kalian?” tiba-tiba Helen mendekat dan menyapa kami.
Haduh sudah tidak karuan rasanya, kami
semua jadi salah tingkah ke-GR an. Kami hanya saling menatap dan tersenyum
celingukkan, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Helen hanya tersenyum
kecil melihat tingkah kami.
Beberapa saat kemudian, malah kami seakan
akrab dengan Helen, dan sengaja pula Helen mengajak makan siang. Wah hari itu
benar-benar spesial bagi kami. Helen yang selama ini ku kira sombong dan jaga
jarak ternyata ramah dan menyenangkan.
“kalian kenapa bisa kesini?” tiba-tiba
Helen membuka pembicaraan diantara kami. Kami hanya saling senyum, malu untuk
menjawab.
“ohh, kalian diajak Bimo ya!, kalau Bimo
memang sering ketemu, disini karena ayah Bimo kerja disini, iya kan Bim,” wajah
Bimo cengar-cengir ke-GR an, sebelum kami menjawab Helen sudah lebih dulu tau.
Pertemuan kami dengan Helen ditempat
pemotretan, justru menambabh kedekatan kami. Semenjak peristiwa itu,
disekolahpun kami lebih dekat dengannya, bahkan kemanapun Helen pergi, kami
selalu setia mengikutinya. Persahabatan kami, berjalan begitu saja, aku sendiri
juga menikmatinya. Canda tawa Bimo, Tiar, dan Arya, membuat segalanya tidak
terasa. Kedekatan kami dengan Helen, juga membawa dampak lain, yaitu ancaman
cemburu dari para cowok-cowok pemuja rahasia Helen. Beruntunglah kami yang bisa
dekat dengan Helen.
2 bulan kemudian, peristiwa yang
mengejutkan, entah bagaimana kronologis dari peristiwa itu aku tidak terlalu
detail. Waktu itu, kami tidak sempat berfikir, pengumuman pagi disekolah,
membuat seluruh warga sekolah kami ricuh rame, semuanya membicarakannya.
Teman-teman kami meneteskan air mata, guru-guru semua bersedih atas peristiwa
pagi itu...
Bersambung...
Jd penasaran nih akhr ceritanya kyak gmna...
ReplyDelete