Pages

Sunday, April 28, 2013

Kaca Mata Helena


Suara riang, canda tawa, terdengar lepas, hampir seluruh teman di ruang kelas, kami semua ikut tertawa, termasuk aku yang tadi diam, dan sempat mengantuk tiba-tiba bangun dan ikut tertawa. Sebenarnya aku tidak tahu detail kejadiannya seperti apa, namun aku cuek saja, bergaya tahu dan ikut tertawa. Tiar, yang duduk disebalah ku masih tertawa, sampai terpinggkal-pingkal memegang perutnya. Ekspresinya benar-benar lepas.

“Bimo, cepat keluar lalu cuci muka, bapak tidak mau ada siswa ngantuk dan meremehkan ketika saya sedang  mengajar” terdengar suara Pak Fuad, tegas memecah suara tawa kami. “jelas-jelas ini pelajaran ekonomi bukan geografi, enak saja kau malah menggambar pulau di meja dengan air liur mu” belum sempat pak Fuad selesai berkata, anak-anak sudah tertawa lagi, membuat suasana kembali ramai. Haha aku juga kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi dari wajah Bimo, yang terlihat lugu dan polos. “sudah-sudah diam semua, konsentrasi lagi ke pelajaran” suara pak Fuad terdengar keras, mengendalikan suasana ribut akibat tawa kami. Semua anak-anak di kelas, diam dan kembali normal. Bimo, dengan muka terlihat kusut, dengan sedikit belepotan mengusap air liur yang ada dipipi dengan telapak tangan segera keluar meninggalkan kelas menuju kamar mandi

Bener-benar lucu sekali, kau Bimo. Benar-benar menggelikan peristiwa tadi, kenapa kau sampai tertidur pas pelajaran ekonomi, pak Fuad lagi” kata Tiar yang menepuk-nepuk pundak Bimo yang ada di sebelahnya. Bimo terlihat sedikit jengkel, dan diam tidak langsung menanggapi kata-kata dari Tiar. Aku yang duduk di sebelah Arya hanya diam, dan menahan tawa, kulihat Arya juga demikian. Memang lucu jika mengingat peristiwa tadi. 

“ah sudahlah tidak usah dibahas, tidak lucu tahu” gertak Bimo, sedikit marah dan menyampar kue di depannya. Bimo mengunyahnya sambil melihat sinis ke arah Tiar.

“he kawan, tidak usah emosi gitu lah, santai, kami kan teman mu semua, wajarlah jika kami ingin tahu kenapa sampai kau mengantuk, tidak biasanya bukan kau mengantuk di kelas, sampai ngiler pula” lagi-lagi Tiar dengan nada terdengar mengejek di kalimat terakhirnya.

Bimo tidak langsung menaggapi masih terus mengunyah dan mengambil teh botol di depannya. “dengar ya, kalian mau tahu kenapa aku tadi sampai mengantuk dan tertidur di kelas, “ intonasi Bimo berubah, seolah dia ingin bercerita, dan ada sedikit rahasia yang disembunyikannya. Lirikan matanya, mengarah kepada kami semua. Aku yang tadi hanya diam, jadi ikut mendekat dan penasaran cerita dari Bimo. 

“kalian tahu, semalem aku tidak bisa tidur, gara-gara apa?..” kalimat Bimo berhenti. Dengan santai dia meminum teh botol di genggaman tanganya, lirikan matanya masih menuju ke arah kami. Dan kami seperti anak kecil yang penasaran, dengan sabar kami menunggu kelanjutan cerita dari Bimo. Susana hening sesaat.

“semalem aku, .., jadi gini dengar ya, sini kalian mendekat aku kasih tau rahasia kenapa tadi malam aku tidak bisa tidur” intonasi suara Bimo berubah pelan, dan tangannya mengajak badan kami untuk merapat. Seolah memang ingin menceritakan rahasia besar. Aku dengan antsusias menurutinya, dan menggeser pantatku untuk mendekat. Susana kantin siang itu cukup rame. Kami berempat duduk di bangku panjang yang saling berhadapan dengan satu meja di tengah. Tidak hanya aku, Tiar, dan Arya juga sama, mereka berdua juga antusias ingin mendengar Bimo kembali bercerita.

“kalian tahu kan, siapa teman kita yang paling cantik di sekolah?” suara Bimo melanjutkan ceritanya, dengan melirik ke arah kami.
“Helen maksudnya” kata ku memotong kalimat Bimo
“ssttt jangan keras, keras.., “dengan cepat Bimo memberikan isyarat kepadaku untuk tidak berkata terlalu keras.
*****
Aku baru tahu ternyata benar cerita dari Bimo beberapa waktu yang lalu, aku juga sependapat dengan Bimo. Seperti pagi ini aku melihatnya di depan gerbang sekolah, bebarengan beberapa siswa yang juga datang menuju gerbang sekolah, mobil mewah itu menepi di dekat gerbang sekolah, warnanya bagus sekali, silver berlilauan terkena sinar matahari pagi. Pintu depan sebelah kiri mobil itu terbuka, ya tidak salah lagi itu Helen. Gadis pujaan di sekolah kami, beberapa bulan ini namanya sangat terkenal. Majalah model remaja kota kami yang membuatnya terkenal, ya sejak dia menang dalam kontes model remaja yang diselenggarakan majalah tersebut. Di sekolah juga tidak kalah terkenal, tidak salah pula kalau cerita Bimo, yang tidak bisa tidur itu. Cerita Bimo waktu itu, dia tidak bisa tidur hanya karena terpesona dan tidak sengaja melihat Helen, dalam sesi pemotrentan, kebetulan Ayah Bimo memang bekerja disana, dan waktu Bimo menjemput ayahnya dari tempat kerja, Bimo tidak sengaja melihat Helen. Cerita Bimo ya masih wajar-wajar saja sebenarnya, siapa pula yang tidak setuju dengan kecantikan Helen bak bidadari itu.

Tampilan Helen pagi ini semakin mempesona, model rambutnya terurai panjang sedikt bergelombang, kulitnya terlihat cerah, wajah manisnya lengkap sudah kecantikan Helen. Dan satu lagi yang menambah kecantikannya adalah kaca mata, ya kaca mata berwarna merah muda itu semakin menambah kecantikan Helen. 

“hoe”..Arya datang disampingku, sampil menepuk pundakku dari belakang, yang membuatku kaget. Wajahnya yang cengar-cengir sok manis itu, terlihat akrab menyapaku.

“ada apa, Yan, kau masih penasaran dengan Helen?” tanya Arya, yang ada disampingku, sambil terus berjalan menuju pintu masuk gerbang sekolah, dan sosok cantik itu perlahan juga beranjak melangkah pergi meninggalkan mobil yang mengantarkannya. Lihat jalannya saja sungguh menarik, tas punggung mungil, menambah elok saja cara berjalan Helen yang sedikit pengangkat pinggulnya, dan bergoyang ke kanan dan kiri. Sungguh aku tidak kuat melihatnya  cantik sekali.

“Hoe” suara Arya lagi-lagi mengagetkanku, dan spontan aku yang dari tadi melihat ke arah Helen, tidak memperhatikan apa yang ada di depanku. Dan “brakk..” suara kepala ku menarabrak pintu kaca saat melangkah masuk ke dalam lorong sekolah..
“hahahaha, Riyan-riyan, makanya kalau jalan itu, matanya jangan keman-mana, nah tu kan akhirnya kena juga kau, sampai pintu kau tabrak segala” Arya mengejeku dengan tertawa senang. Aku masih kesakitan mengusap kepala ku yang menabrak pintu tadi, untung tidak terlalu keras. Melirik ke arah Arya yang masih tertawa mengejeku.

Dan saat ingin membalas ejekan Arya tadi, tiba-tiba Helen berjalan pelan di samping Arya dan sedikit melirik ku, ya Helen gadis pujaan di sekolah kami itu meliriku, untuk sepersekian detik aku sangat senang, meskipun hanya lirikan matanya, hilang sudah rasa sakit dikepalaku, ku balas lirikan matanya dengan senyum, namun dia tidak bereaksi lagi, dan terus berjalan mendahului kami.

“hoe” gantian aku yang menepuk pundak Arya, mengangetkannya. Ternyata bukan aku saja yang tersihir kecantikan Helen, Arya juga, dia juga menghentikan tawa tadi saat sosok cantik itu berjalan disampingnya. Memperhatikannya terus, mata Arya mengikuti gerakan Helen yang mendahului kami. Waktu sesat berjalan lambat. Wangi parfum itu, hemm sungguh wangi sekali.

“hayo, ah ternyata kau juga tersihir dengan kecantikan Helen, bukan?” goda ku kepada Arya yang dari tadi mengejekku.

“ah, kau ini siapa pula yang tidak tersihir dengan bidadari manis itu, semua juga sudah tahu, hampir semua anak cowok se-sekolah juga tahu” jawab Arya ketus.
*****
Hari-hari berlalu, aku, Tiar, Arya, dan Bimo masih saja membicarakan Helen. Dan tidak ada yang lebih seru untuk tidak membicarakan Helen. Lagi-lagi Helen, helen dan helen. Di kantin semua cowok juga rame membicarakan, di kelas, lapangan, ruang guru, lab. Bahasa, ah semua tempat di sekolah ini rame membicarakan Helen dengan segala kelebihannya. Helena seperti artis saja. dia bagaikan ikon baru di sekolah, secara tidak langsung kepopuleran Helen juga membawa nama baik sekolah kami. 

“gimana Bim, kita boleh masuk kan ke studio pemotretan di kantor ayah mu kerja itu” Tiar menggoda Bimo. Aku tahu maksud Tiar apa, ya sejak terkena virus Helen, kami berempat selalu saja mencari celah untuk bisa lebih dekat dengan Helen. Tapi diantara kami berempat yang paling beruntung tetap Bimo, karena Bimo lebih sering ketemu Helen di luar sekolah. Helen seorang model majalah, ayah Bimo juga bekerja di majalah itu, jadi dengan banyak alasan Bimo punya banyak kesempatan datang ke tempat bapaknya kerja meskipun lebih sering menjemputnya jika, ayahnya malas bawa kendaraan. 

“hemmm, gini jadi kata ayah ku, besok ada sesi pemotretan di diluar alias outdoor, so jadi kata ayahku kita boleh lihat pemotretannya Helen”Bimo bersemangat menjelaskan, kepada kami. Saat kami main ke rumahnya. Terlihat wajah Tiar mulai bersemangat, senyum ambisi itu.

“wah, asyik dong, besok kita bisa lihat pemotretannya Helen live alisa langsung” Tiar bersemangat.

“ah kamu Yar, ngarep banget pengin lihat Helen” celetuk Arya yang dari tadi diam saja.
“gak usah jaim deh Ya, sebenernya kamu juga pengin lihatkan” balas Tiar kepada Arya.

“udah-udah gak usah saling iri-irian segala, semua benar” aku menengahi mereka, bila dibairin urusan sepela malah jadi pertengkaran mulut, tidak enak kan bertengkar di rumah Bimo.
*****
Ke-esokan harinya, kami ber-empat berangkat ke kantor majalah model itu, untuk meleihat pemotretan Helen. Kami semua sangat bersemangat, berdandan semaksimal mungkin, suapaya terlihat ganteng dan keren di depan Helen. Sebenarnya setiap hari kami juga bertemu Helen di sekolah, tapi kami tidak satu kelas, jadi ketemu paling ya sekedar menyapa, rasanya masih malu-malu gimana gitu untuk langsung bicara sama Helen. Helen juga anaknya sedikit pendiem jadi ya, kalau di sekolah kami hanya jadi pemuja rahasia sang bidadari.

Hari inilah kesempatan kami, untuk benar-benar lebih dekat dengan Helen. Lebih baik bersaing dengan temen deket sendiri. Tau kelemahan masing-masing. Kalau bersaing di sekolah kami jelas kalah modal. Hampir semua cowok di sekolah naksir sama Helen. Sok-sok baik gitu, pas Helen di kantin sok akrab dengan membelikan minumlah, menawarkan ini itu lah, Helen malah terlihat cuek saja. dasar cowok perayu.

Setelah sampai di tempat pemotretan, kami benar-benar kagum melaihat Helen, bergaya di depan kamera, ya meskipun kami hanya boleh melihat dari jauh, namun tidak terlalu jauh dari jarak pandang kami.  Helen bak artis di TV, bergaya, dibayang-bayangi lampu blizt kamera dan cahaya dari beberapa lampu pemotretan Helen semakin apik. ihh, kalau diperhatikan dengan cermat Helen sempurna sekali. Cantik.  Kami seperti mengintip bidadari, mirip cerita  jaka tarub, tapi bedanya kami mengintip bidadari yang di foto hehe. tidak terasa sudah 2 jam kami tempat pemotretan juga. Menyimak dengan setail seluruh rangkain pemotretan ini, mulai dari persiapan, hingga melihat Helen berganti kostum warna-warni yang menarik itu, sungguh menyenangkan. Dan tidak terasa pula acara pemotretan Helen sudah hampir selesai.

“gimana seru kan!, untung aku baik pada kalian dengan mengajak kalian ke tempat kerja ayahku” seru Bimo dengan sombong kepada kami. Kami tidak lantas menjawab dan hanya saling melirik.

“heh siapa pula yang mengajak kami kesini?” balas Tiar kepada Bimo tidak mau kalah.

“kau sendiri kan yang menawari kesempatan ini, melihat sang bidadari katamu, ya kami jelas mau lah, siapa juga yang tidak mau melihat bidadari secantik Helen” nada Tiar sangat keras sekali melawan.

Kami terus berjalan meninggalkan lokasi pemotretan, dan tidak sengaja pula dibelakang kami ternyata ada Helen yang berjalan pelan.
“Eh, ternyata kalian disini, sejak kapan, aku kok baru lihat kalian?” tiba-tiba Helen mendekat dan menyapa kami.

Haduh sudah tidak karuan rasanya, kami semua jadi salah tingkah ke-GR an. Kami hanya saling menatap dan tersenyum celingukkan, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Helen hanya tersenyum kecil melihat tingkah kami.

Beberapa saat kemudian, malah kami seakan akrab dengan Helen, dan sengaja pula Helen mengajak makan siang. Wah hari itu benar-benar spesial bagi kami. Helen yang selama ini ku kira sombong dan jaga jarak ternyata ramah dan menyenangkan.

“kalian kenapa bisa kesini?” tiba-tiba Helen membuka pembicaraan diantara kami. Kami hanya saling senyum, malu untuk menjawab.

“ohh, kalian diajak Bimo ya!, kalau Bimo memang sering ketemu, disini karena ayah Bimo kerja disini, iya kan Bim,” wajah Bimo cengar-cengir ke-GR an, sebelum kami menjawab Helen sudah lebih dulu tau.

Pertemuan kami dengan Helen ditempat pemotretan, justru menambabh kedekatan kami. Semenjak peristiwa itu, disekolahpun kami lebih dekat dengannya, bahkan kemanapun Helen pergi, kami selalu setia mengikutinya. Persahabatan kami, berjalan begitu saja, aku sendiri juga menikmatinya. Canda tawa Bimo, Tiar, dan Arya, membuat segalanya tidak terasa. Kedekatan kami dengan Helen, juga membawa dampak lain, yaitu ancaman cemburu dari para cowok-cowok pemuja rahasia Helen. Beruntunglah kami yang bisa dekat dengan Helen.

2 bulan kemudian, peristiwa yang mengejutkan, entah bagaimana kronologis dari peristiwa itu aku tidak terlalu detail. Waktu itu, kami tidak sempat berfikir, pengumuman pagi disekolah, membuat seluruh warga sekolah kami ricuh rame, semuanya membicarakannya. Teman-teman kami meneteskan air mata, guru-guru semua bersedih atas peristiwa pagi itu...

Bersambung...



1 comments:

 

Blogger news

Blogroll

About