cerita pantai Pasir Putih
Selalu saja setiap aku bertemu
dengan Irhamna, dan kebetulan saat di tempat latihan kami memang sering bertemu
entah itu sekedar cerita ataupun hanya ngobrol biasa. Seperti kami ini
tiba-tiba arah obrolan kami berubah menjadi cerita tentang pengalaman ku saat
pergi ke pantai Pasir Putih. Kuceritakan kepadanya, cerita tentang pantai-pantai,
kegilaan ku dengan para geng gila yang sudah banyak kami alami, salah satu cerita
tentang pantai yang paling seru yang kami alami adalah cerita tentang pasir
putih di trenggalek.
◊◊◊◊◊
Aku masih ingat kejadian itu saat
kami semester 4. Sebenarnya tak terlintas sama sekali untuk merencanakannya.
Hari itu, kami ber-7 hanya mengadakan perkumpulan sepulang kuliah yang
kebetulan mampir di kontrakannya habib. Salah seorang teman ku. Habib juga satu
kontrakan dengan Singgih, aktor dari semua kegilaan ini. Waktu itu kami
berkumpul makan-makan, kerena anak-anak cewek seperti, Inaya, Zia, Ema, dan
Rukoyyah juga niat banget kalau disuruh masak.
“ini sebenarnya kita mau masak apa
seh, maknyem” tanya Ema dengan wajah lugunya yang imut itu.
“ya, terserah Em, anak-anak minta
dimasakin apa”?,,tanya Maknyem(alias rukoyyah) pada kami, dengan mata sedikit
tegang.
“masak rujak saja maknyem, kita
buat rujak buah, itu kan lebih seru” tiba-tiba Singgih membuka suasana yang
dari tadi membingunggkan gak jelas mau masak apa,
Ok semua setuju dengan ide singgih
untuk buat rujak buah saja daripada
harus makan yang berat. Sementara itu aku hanya membantu mengupas, buah timun,
nanas yang dibeli Ina sama Zia dari pasar. Kami memang sering berkumpul seperti
ini, sekedar untuk menghibur diri dari kesibukan tugas kuliah.
Acara makan-makan pun, tiba kami
saling mengisi suasana untuk bercanda. Namun ada yang menganjal antara aku dan
ema saat tema membahasan beralih kepada masalah pacar, karena antara aku dan
ema ada sebuah dilema yang menyakitkan. Semua juga sudah tahu tentang itu,
bahwa hubungan kami ini gak jelas, antara cinta dan persahabatan.
Aku tahu saat itu, Ema sudah punya
pacar, sedangkan aku masih jomblo dan masih setia dengan perasaan yang aku
yakini. Ema, ya sebenarnya aku sangat sayang dengan dia, entah dari mana
perasaan itu datang, dari kedekatan kami yang terlalu sering atau memang aku
bener-benr suka dengan dia. Entahlah biar waktu yang akan menjawab semuanya.
Jalan kita masih panjang.
“ayok rek kita ngadain acara
jalan-jalan lagi, sudah lama kan kita gak jalan-jalan” celetuk Zia yang
bersemangat untuk mengajak kami jalan-jalan.
“jalan kemana Ze, bukanlah kita 2
bulan kemarin baru jalan-jalan ke Perigi dan mampir ke Blitar dan mengunjungi
waduk karangkates” aku mencoba masuk dalam pembicaraan.
“iya seh bang, tapi kan gak ada
salah juga kalau kita jalan-jalan lagi itung-itung buat rekreasi” jelas zia.
“iya rek ayo kita tentukan jadwal,
supaya acara ini dapat terlaksana,” tambah Singgih yang semakin antusias, kalo
Ina, Maknyem dan Habib hanya ngikut saja mereka.
Setelah berdiskusi lama, dan gak
ada keputusan yang jelas, kami akhirnya pasrah, dan mungkin acara ini akan terlaksana
bulan juni nanti setelah UAS. Kalau secara pribadi, aku juga tidak terlalu
berminat untuk ikut, tapi saat aku mengatakan untuk tidak ikut, pasti mereka
mengeluh dan mengamcam, bang udin harus ikut, apapun yang terjadi bang udin
harus ikut. Mereka semua menganggap aku adalah sebagai ketua suku bagi kelompok
ini, sudah mirip kayak suku pedalaman saja, jadi aku ini seperti di tua kan,
yah meskipun secara umur yang paling tua diantara kami, adalah Maknyem dan Habib,
aku masih urutan ke-3 jadi tidak terlalu tua lah. Namun karena sifat ku yang
mungkin lebih dewasa jadi mereka se-olah menganggapku memang pantes dijadikan
ketua, bahkan sejak semester 1 mereka tidak pernah memanggil nama asli ku,
pasti diberi imbuhan Bang, aku sendiri juga tidak tahu apa arti tambahan Bang,
sampai sekarang nama panggilanku Bang
Udin.
Lanjut cerita pantai, dengan
antusias Irhamna mendengarkan ceritaku. Wajahnya seperti anak kecil yang minta
dongeng sebelum tidur. Dia adalah adik yunior ku dalam latihan silat yang ada
dikampus. Dan sudah lama kami saling kenal, dia lebih sering memanggilku dengan
sebutan mas.
“ayo, mas lanjutin lagi ceritanya
jadi semakin penasaran” goda irhamna kepadaku.
“iya, iya, tenang saja ir, pasti
tak lanjutkan, tapi ya istirahat sebentar ya tak minum dulu” jawabku sambil
mengambil sebotol minuman air mineral yang
selalu di sediakan untuk para senior.
◊◊◊◊◊
Lanjut kembali, akhirnya setelah
rencana yang kami susun saat di kontrakannya habib, kami menjalani aktivitas
seperti biasa. Dan tidak terjadi apa-apa, baru seminggu setelah itu, ada
rencana gila yang datang dari Singgih katanya kalau nunggu sampai UAS, hanya
akan menjani angan-angan yang tidak tercapai, bahkan terlalu lama, ditakutkan lagi
kalau diantara kami ada keperluan mendadak dan ingin pulang karena liburan.
Kami juga gak ingin seperti rencana Feri mantan ketua kelas kami yang
mengadakan acara untuk mengisi liburan gak jadi karena terlalu banyak rencana.
Dan kami gagalkan.
Setelah kami rapat dadakan,
membahas acara ini, aku tetep sok cuek dan aku sebenarnya males banget bukan
karena tidak punya uang, tapi lebih karena waktu yang mendadak.
“ayolah bang udin, kapan lagi kita
seneng-seneng, mumpung masih semster 4, “ rengek Ema kepadaku. Bukan itu
masalahnya em, tapi aku takut seperti peristiwa saat di jogja, yang akhirnya
malah aku yang dicuekin sama Ema, udah berharap bisa dekat dengan mu malah aku,
kamu cuekin. Suara hatiku pada Ema.
“iya deh em, jadi besok kita
berangkat?” lagi-lagi aku harus mengalah dengan ema, walau bagaimanapun aku
tetep gak bisa nyakitin Ema, apapun itu.. termasuk menolak permintaannya.
“ iya bang udin, kita berangkat
besok sore, karena rencananya kita akan camping alias bermalam dipantai” jelas
Singgih.
“Kalo kamu gimana bib”tanya ku
kepada Habib
“ya aku terserah din, nurut saja,
asal semua beres, ayo aku ikut-ikut saja” jawab Habib.
“ya maksud ku gini lho bib, jadi
kita semua disini sama-sama fear dan deal”
Ok, dan akhirnya ide gila ini kami
mulai. Rencana untuk bermalam di pantai sungguh ide gila nomer kesekian. Kami
sudah pernah menjalankan ide gila dan pergi ke pantai-pantai beberapa bulan
yang lalu saat ke jogja dan sempat mampir kerumahku.
Ide awal kami, karena kami
berencana untuk bermalam jadi kami perlu membawa bahan makanan, serta alat
untuk tidur alias karpet dan tenda. Segera hari itu juga kami, menjalankan tugas
masing-masing, seperti aku, Habib, dan Singgih bertugas untuk mencari kendaraan
alat-alat tidur dsb. Sedangkan anak-anak cewek lebih fokus kepada makanan,
serahkan saja masalah masak-memasak kepada yang ahli. Hanya setengah hari kami
melakukan persiapan. Kerena rencannya kami berangkat siang, dan sampai kepantai
pasir putih sore menjelang malam, kami tahu dan sudah memikirkannya karena kami sudah pernah kesana juga 2 bulan
yang lalu.
Jam 1 siang, setelah menata segala
persiapan dan keperluan, dan tak lupa aku sudah siapkan berbagai macam kumpulan
lagu-lagu yang aku copy dalam flasdisk, dan aku juga tahu itu tugas khusus yang
diberikan kepadaku. Mobil sudah kami ambil dari tempat rental, dan sudah siap
untuk berangakat, dan rombongan dalam mobil bertambah satu yaitu Eng, salah satu
temen kostnya Ema dan Zia, ya dia kami ajak karena sebagai penyuplai dana juga
untuk meyewa mobil mengingat masih ada1 tempat duduk yang kosong, tadinya seh
kami ingin mengajak feri, mantan ketua yang selalu kami gagalkan rencananya.
Lets go perjalanan menuju pantai
pasir putih telah dimulai, dan perlahan mobil kami menuju ke selatan,
meninggalkan kota Malang menuju Trenggalek, seperti perjalan ke perigi dulu
kami juga lewat jalan yang sama. Aku masih ingat sekali peristiwa itu. Jalan
siang itu sempat terhambat saat rombongan suporter Arema, memadati jalan, sore
itu memang ada pertandingan laga kandang Arema di Stadion Kanjuruhan, jadi
wajar jalan sedikit macet dan bahkan sempat menimbulkan antrian panjang saat
lampu merah.
Didalam mobil, kami tidak diam, ya
sesekali kami bercanda, terkadang aku kehabisan kata-kata saat teman-teman
memojokkanku dengan menyinggung hubungan ku dengan ema.
“kalau bang udin gimana nih kisah
cintanya” singung Maknyem. Dan aku dengar bisik-bisik Maknyem dengan Ina, Zia
juga kiut nimbrung.., aku hanya diam dan senyum-senyum tok, melirik ke Ema yang
wajahnya juga malu-malu gitu. Ah membosankan jika berbicara masalah cinta
apalagi antara aku dan ema.
Habib duduk di depan juga membuat
suasana semakin rame dengan banyol-anya yang tiba-tiba menimbulkan tawa
diantara kami. Singgih juga tidak ketinggalan,meskipun dia nyetir di depan
sesekali juga ikut dalam pembicaraan kami. Tak akui pertama kali tahu Singgih
itu sudah mahir menyetir mobil aku tidak percaya namun, setelah tahu dan
merasakan sendiri saat ke jogja, aku yakin dengan singgih kalo sudah mahir
menyetir mobil, meskipun fisiknya kecil namun lincah juga dalam menyetir mobil.
Sesekali ya masih takut saat dia, mencoba ngebut, lalu tiba-tiba menginjak rem
mendadak, itu yang kadang-kadang terdengar jeritan dari bangku belakang,
tempatnya anak-anak cewek.
Perjalanan menuju pasir putih cukup
lama juga, dan alhamdulilah setelah kurang lebih 4 jam perjalanan kami sampai
juga di wilayah pantai, aku juga masih ingat saat melewati bukit ini, sebelum
masuk wilayah pantai, memang harus mendaki jalan menanjak melewati bukit baru
setelah bukit ini, pantai akan terlihat. Dan jam sudah menunjukkan pukul 5
sore, itu artinya sebentar lagi magrib. Keindahan matahari terbenam sempat kami
saksikan beberapa menit dari atas bukit menuju pantai.
Tepat memasuki kawasan pantai,
magrib menyambut. Melewati pantai perigi dulu, lokasi pantai pasir putih tepat
disebalah timur pantai perigi, jadi kami masih melakukan perjalanan kurang
lebih 3 km dari pantai perigi. Melewati pemukiman penduduk dan hari semakin
gelap. Susana didalam mobil juga ikut berubah. Rasa penasaran bercampur deg-deg
an menghampiri kami. Gimana tidak? Setelah dihitung-hitung mobil kami hanya
muter-muter gak jelas, sempat mengikuti petunjuk arah menuju pantai namun,
sepeti dalam film-film mobil kami terkena pengaruh suasana sehingga Singgih
sebagai sopir juga merasa aneh dan kami bertemu dengan jalan buntu, susana
mulai mencekam, hanya satu yang aku takutkan. Aku takut saat ada gerombolan
orang jahat yang siap menghadang kami, apalagi kami orang asing.
◊◊◊◊◊
“iya ta mas, terus giman mas”? tanya Irhamna lagi memotong
ceritaku. Seperti anak kecil Irhamna semakin penasaran dengan cerita
selanjutnya.
“ok ir tenang saja, aku kan senior mu dalam beladiri
jadi sedikit banyak aku kan tahu teknik membela diri.” Jelas ku meyakinkan...
“iya-iya mas, percaya deh.., kakak
pelatih alias mas udin” balas Irhamna dengan tawa kecilnya yang terlihat manis.
◊◊◊◊◊
Lanjut lagi dalam cerita pantai
pasir putih. Setelah kami bingung dan merasa tersesat. Kami memutuskan untuk
beristirahat sejenak dan mencari mushola. Dan turun dari mobil dan sholat
jama’ah. Tak tahu bagaimana nasib kami selanjutnya, hanya bisa pasrah dan
berdo’a semoga kami kembali ke jalan yang benar dan mendapatkan petunjuk sampai
ke pantai pasir putih. Hari semakin malam, dan sudah menunjukkan jam 7.10 menit
itu artinya kami hampir 1 jam tersesat tak tahu arah. Setelah selesai sholat,
kami mencoba bertanya kepada penduduk sekitar. Daripada kami tersesat terlalu
lama.
‘pak nyuwun sewu, jalan menuju ke
pantai pasir putih kemana ya pak’?” Habib mencoba memberanikan diri.
“oh udah dekat mas, mas balik arah
saja ada pertigaan belok kanan, nah mas sudah sampai ikut jalan saja.”
“oh iya pak matur suwun ngeh pak”
“iya mas, sama-sama”
Mobil kami melesat menuju petunjuk
yang diarahkan dari bapak yang kami tanya tadi , ya semoga saja kami tidak
disesatkan. Pelan-pelan kami mengikuti saran bapak tadi, dan benar pertigaan
yang dimaksud bapak tadi, sudah kami lewati, namun ternyata kami memang salah
arah, akibat papan petunjuknya juga salah, miring akibat terkena angin mungkin
jadi kami ya juga salah belok. Semakin malam, susana di dalam mobil juga
semakin penuh dengan wajah kekhawatiran.
“bang bener ta bang, arah pantai
ke sini” tanya Ina dengan wajah cemas
“ya semoga in, ya namanya juga
usaha, yang penting tetap positif thinking’ jawabku singkat
Benar-benar kami dalam kegalauan.
Dan titik terang mulai tampak, melihat jejak pantai, rumah-rumah seperti
warung-warung kecil, perahu-perahu kecil juga sudah tampak didepan mata, bunyi
ombak yang berlomba-lomba datang bergemuruh juga sudah terdengar. Kami sampai
di pasir putih.
Bukannya senang, tapi kami malah
ragu jika bermalam disini, karena kondisinya yang sepi dan terkesan seram.
Beberapa menit setelah aku berunding dengan Habib, dan Singgih, dan demi
keselamatan bersama, kami mengurungkan niat untuk bermalam dipantai pasir
putih, mending kami balik arah dan bermalam dipantai perigi yang memang lumayan
rame dan terkesan lebih aman karena dekat dengan pelabuhan ikan.
Ok akhirnya kami sepakat untuk
balik arah dan bermalam di perigi, dan kembali ke pasir putih esok pagi. Hah,
lelah sudah setelah bolak-balik dan sempat tersesat kami malah balik arah.
Ibarat garis finis sudah didepan mata malah kami tinggalkan untuk kembali
mundur. Ah, sudahlah yang terpenting adalah keselamatan jiwa kami.
Beberapa menit kemudian, sudah
hampir jam 8 malam. Kami akhirnya sampai ke pantai perigi. Mencari tempat
parkir yang nyaman, supaya keamanan dan kenyaman kami terjaga. Ah..., rasanya
plong setelah perjalan lama membosankan, bisa menghirup udara malam pantai
perigi, menatap debur ombak yang masih kuat menghampiri dan menyapu bibir
pantai. Lega rasanya, kami semua seperti terlepas dari belenggu ketidak
pastian.
Satu-satu kami menurunkan
barang-barang yang kami bawa tadi, memasang tikar, menurunkan air galon,
makanan, dan sebagainya termasuk gitar. Gitar dari Gugus, yang kemarin malam
aku ambil dengan Habib, di kontrakannya Gugus. Tak butuh waktu lama, kami
langsung memulai ritual makan-makan. Pertama-tama karena rencana awal kami mau
buat pesta bakar ikan, ya kami sudah persiapan juga untuk membawa arang, ikan
sudah kami bersihkan dan tinggal untuk membakarnya saja, dari pada beli kami
memang sengaja membawa semua makanan dari kontrakan, anak ceweklah yang
mempersiapkan semua ini. sebelum memulai acara bakar ikan, kami bingung karena
lupa bawa korek api, mau beli sudah banyak toko yang tutup yang ada hanya
warung, terpaksa kami mencari korek api disana. Sayang ibu penjaga warung itu
tidak menjual korek api.
Untung ada rombongan di sebelah
kami yang baru datang ternyata juga mangadakan pesta bakar-bakar ikan, malah
lebih besar lagi, karena mereka membuat api unggun. Nah kesempatan untuk
berkomunikasi dan minta api, atau setidaknya kami boleh pinjem korek api, dan
ternyata ramah juga rombongan disebelah kami, kami dipinjami korek api, sedikit
demi sedikit api mulai menyala, dan arang yang sudah kami persiapkan mulai
terbakar, acara-acara panggang ikan begitu seru, melihat suasana pantai yang
cerah, dan di sekeliling juga rame, karena waktu itu malam minggu.
Susana semakin meriah saat aku dan
Habib bergantian memanikan gitar, yah meskipun hanya lagu-lagu itu saja yang
kami bisa, karena aku dan habib juga masih pemula dalam bidang per-gitaran. Yahh
tak apalah dari pada sunyi sepi, untuk menghibur diri juga.
“bang, aku kok kepingin ya belajar
nyanyi terus main gitar” tiba-tiba Ema mendekat dan mengajakku untuk bicara.,
tatapan matanya memelas, indah sekali, ada cahaya api, yang memantul ditambah
remang-remang suasana malam pantai, Ema terlihat semakin cantik.
“hemmm apa em, kamu pengin belajar
main gitar,? “tanya ku seperti orang yang antusias, ini salah satu teknik
ketika ada orang yang tertarik dan meminta sesuatu, bersikaplah dengan antusias
seolah rela untuk membantunya dan menghargai keinginannya.
“iya bang, bisa kan kamu ajarin
aku main gitar’
Hemm aku masih tidak bisa
menjawab, ini sebenarnya kesemapatan, kapan lagi, bisa ngajarin Ema main gitar
dengan suasana pantai seperti ini. Seperti seorang yang masih tidak percaya aku
mayakinkan diriku sendiri, semoga ini bukan mimpi.
“bang udin, bisa kan” sekali lagi
Ema mengatakan nya padaku
“iya deh em, apa seh yang enggak
buat ema” goda ku sambil tersenyum kepadanya
Ema hanya membalasnya dengan
cubitan di lengan ku.
Dan kami pun seperti orang
pacaran, ya aku ajari ema main gitar, mulai dari kunci-kunci dasar, meskipun
aku sendiri juga kurang mahir hanya beberapa lagu saja yang bisa kumainkan.
Tak terasa suasana pantai semakin
berubah, entah karena apa. Semula kami memang berencana untuk bermalam disini,
namun setelah melihat-lihat situasi yang ada kami jadi was-was terlebih
rombongan kami lebih banyak cewek dari pada cowoknya. Selain itu, rombongan
yang ada disamping kami telah pergi, sudah jam 22.15 itu artinya memang sudah
jam malam.
“din gimana ini din, kita gak
mungkin nginap disini” Habib mencoba mengajakku bicara.
“memang kenapa bib?” balas ku
“din, aku khawatir kita
kenapa-kenapa, dari tadi aku melihat kumpulan anak-anak yang lalu lalang pakai
sepeda motor itu mengawasi kita, dan lihat” Habib menujuk ke belakang mobil
kami, ada sekumpulan anak muda yang kelihatannya sedang mabuk-mabukan.
“lihat kan din, cowoknya disini
cuma aku, kamu dan singgih, dan lihat ceweknya, gak imbang din, kalo kita cowok
semua sih gak papa, tapi yang aku takutkan cewek din” jelas Habib dengan
ekpresi yang sedikit tegang.
“bener bib, meskipun aku juga bisa
beladiri, tapi aku juga sadar 1 lawan banyak tetep kalah dan posisi kita adalah
orang asing di tempat ini, kita kalah segalanya bib”
Setelah kami berdiskusi, kami
buru-buru meninggalkan pantai, sebelum semua terlambat dan terjadi hal-hal yang
tidak kami inginkan terutama tindak kriminal yang lebih berbahaya. Dengan
terpaksa rencana kami bermalam di pantai gagal. Sedikit kecewa sih, namun tak
apalah demi keselamatan kami juga.
Ditengah kegalauan mau nginep
kemana, ada solusi yang tiba-tiba muncul yaitu nginep di masjid, nah itu solusi
ekonomis dan lebih aman dari pada harus dipantai dan berhadapan dengan kumpulan
para pemabuk. Aku masih ingat dimana tempat masjid yang sekiranya aman. Kami
langsung menuju kesana, dan tidak sesuai dengan apa yang ku perkirakan,
ternyata masjid yang kami tuju, gerbangnya ditutup. Gagal sudah bermimpi
mencari tempat yang aman. Tak henti-hentinya mobil kami modar-mandir gak jelas
mencari tempat yang aman untuk bermalam, ada seh hotel dan tempat penginapan,
tapi apa daya keuangan kami tidak mencukupi untuk menginap. Dan kami frustasi.,
kami akhirnya memilih untuk memberhentikan mobil kami, karena kami takut jika
mondar-mandir gak jelas kayak gini akan menimbulkan kecurigaan masyarakat
sekitar. Mobil kami parkir di depan kios toko yang sudah tutup. Jalan juga
sudah mulai sepi. Rasa takut menghantui kami, untuk bebrapa saat memang
terlihat aman, tidur di mobil, tapi dalam kondisi pintu dan kaca mobil ditutup
mesin dimatikan, suasana dalam mobil seperti di dalam oven pansnya bukan main.
Bahkan bisa jadi kalau terus seperti ini kami mati, gara-gara kekurangan
oksigen.
“gimana ini bang udin ayo, kita
cari tempat yang lebih aman dan nyaman” tiba-tiba Ina dengan nada khawatirnya
bicara.
“iya in, kau tahu kita gak mungkin
didalam mobil terus, terlalu sedikit oksigen yang kita hirup, dan bisa-biasa
kita mati hanya gara-gara kekuranagn oksigen”
“ayok bang udin cari cara apa
gitu” tegas Zia
“masak kita mau nginep di hotel,
ada uang lebih ta?”
“gak ada, uang kita pas, untuk
besok dan beli BBM untuk balik besok” jawab Singgih
Kami semua hampir frustasi
apalagi, saat rombongan geng anak muda melewati mobil kami, kami semua bersembunyi
dan berharap mereka tidak mengenali mobil kami. Sesaat kami semua sudah pasrah.
Ditengah kegalaun ini, aku
menemukan ide.
“gimana kalo kita nginap di
polsek, se ingatku, sebelum pasar yang kita lewati pertama kali masuk kawasan
pantai aku lihat ada kantor polisi kecamatan alis polsek watulimo.” Saranku
kepada teman-teman, memang sih awalnya mereka gak setuju karena terlalu takut
dan gak mau ribet berurusan dengan polisi. Namun karena demi keselamatan dan
ini mendesak kami akhirnya setuju. Bersembunyi ditempat berbahaya terkadang
justru lebih aman.
◊◊◊◊◊
Kulihat wajah Irhamna semakin
antusias, mendengar cerita ku. “iya ta mas, terus gimana, berarti sampean dan
teman-teman sampean masuk ke kantor polisi dan tidur disana?”
“ya itu terpaksa Ir, pilihan itu
adalah pilihan paling aman saat itu, demi keselamatan bersama” jelasku.
“hemmm, terus mas,..lanjutin mas
ceritanya, kok jadi tambah seru ya?’ wajah irhamna semakin penasaran, dan tidak
sabar dengan kelanjutan ceritanya.
◊◊◊◊◊
Beberapa saat kemudian, mobil kami
berhenti di depan polsek Watulimo Trenggalek. Sebelum turun kami sempat takut
dan saling tunjuk siapa yang mau laporan ke polisi.
“ayo din, kamu wes yang
kesana”tunjuk Habib
“lho kok aku seh, gak berani aku
kalo sendiri”
“ayo lah din, katanya kamu
pendekar silat” rengek Habib, ini yang paling ku benci, memuji seseorang lalu
secara tidak langsung menyruhnya, strategi menajemn kepemimpinan yang baik.
Namun tetap tidak suka dengan cara halus yang memelas itu. Menyanjung dulu,
diabawa keatas lalu diturunkan.
Sete;ah berunding dan saling
tunjuk, akhirnya aku dan habib lah yang turun dari mobil dan laporan kepada
petugas yang ada dikantor polisi.
Sebenarnya aku takut kenapa-kenapa karena takut ditanya ini itu yang tidak bisa
kami jawab alias ketahuan bohong. Sebelum mendekat aku dan habib mencari alasan
suapay kami diperbolehkan masuk dan tidur di kantor polisi.
“gimana bib, ayo masuk laporan”
“jangan dulu din, kita nyari
alasan yang logis supaya diizinkan masuk”
“maksudnya” aku mencoba menegaskan
“gini lho din, kita kan satu mobil
ber-8, ceweknya 5, cowoknya 3, dan kalo kita ditanya alasan kita adalah main ke
pantai pasti mereka curiga dikira kita anak nakal” jelas habib.
“oh.., iya bib aku sudah tahu
maksudmu”..
Aku dan habib, kami berdua pelan-pelan
memasuki gerbang halaman polsek dan laporan di petugas yang ada di depan.
“ada apa dik” salah seorang
penjaga bertanya kepada kami
“gini pak, kami satu rombongan
dari ponorogo mampir ke pantai lalu
kemalaman di pantai dan mau menumpang untuk istirahat,” jelas Habib
“oh berapa orang yang ada di
mobil,”?
“8 orang pak termasuk kami “
“iya dik silahkan, mobilnya
diparkir dihalaman, lalu laporan lagi”
Setelah itu aku menyuruh singgih
untuk parkir mobil di halaman kantor polsek. Kami satu persatu turun dan saat
laporan polisi itu curiga.
“lho dik kok banyak perempuannya?’
dengan wajah mencurigai dan terheran bertanya ke arah Habib.
“iya pak, kami ini mahasiswa habis
menegok teman kami yang ada di ponorogo”? dengan wajah sok imut dan senyum
manis Habib mencoba melakukan strateginya lagi untuk mempengaruhi polisi.
Akhirnya polisi itu percaya juga
kepada kami,
“silakan dik, mumpung kapolseknya
masih tidur, jadi silakan untuk tidur disini”, petugas taadi menunujukan
ruangan yang bolah kami jadikan tempat istirahat. kami disuruh tidur di ruang tunggu dan
introgasi.
Prioritas tidur selain cewek
adalah Singgih karena dia sopir jadi yang tidak tidur malam itu hanya aku dan Habib.
Dengan terpaksa dan untuk menghindari kecurigaan aku dan Habib mencoba
berkomunikasi dengan para petugas atau polisi malam yang ada di polsek Watulimo.
Malam itu aku dan habib, nonton tv, kebetulan ada sepak bola, dan menyuguhkan
kopi kepada petugas yang kebetulan ada sisa kopi yang kami buat di pantai tadi.
“sebenarnya adek ini dari mana mau
kemana”? salah satu polisi bertanya
kepada kami.
“begini Pak, sebenarnya kami semua
adalah mahasiswa, kebetulan tadi kami dari Ponorogo lalu mampir ke sini, dan
kemalaman dipantai.” Jawabku dengan santai.
“oh.., berarti kalian ini
mahasiswa”
“iya pak”
“mahasiswa dari malang? Kuliah di
mana?”
“kami kuliah di UIN Malang Pak” Habib
gantian menjawab.
“terus kalian tadi dari Ponorogo,
Ponorogonya mana”? kebetulan saya juga asli orang Ponorogo.” Balas pak polisi.
Seketika itu aku dan Habib mulai
kebingungan harus menjawab apa, ada jeda beberapa detik, kupergunakan untuk
berbisik-bisik dengan habib, “Bib kalo kita salah ngomong kita akan ketahuan
bohong” , “iya Din aku tahu, ayo carilah alasan yang tepat , kamu kan anak
Magetan, dan Ponorogo itu dekat kan dengan Magetan, ayolah din kamu pasti bisa
cari alasan yang logis agar pak polisi itu, tidak curiga.
“iya, Pak kami tadi dari ponorogo,
sebelah barat alun-alun ada pondok, kami tadi menjenguk teman kami main
kerumahnya yang ada di sebelah pondok pesantren” jawabku pelan dan terlihat
ragu-ragu, dan berharap semoga pak polisi percaya dengan alasan kami.
Dan dengan argumen-argumen yang
terus kami mantapkan, seperti diskusi dalam kelas, kami akhirnya berhasil
meyakinkan pak polisi. Tak buth waktu lama, kami akhhirnya berinteraksi dengan
para polisi di kantor tersebut berkenalan dan saling bertanya dan menjawab. Tak
terasa juga waktu sudah menunjukan jam 1 malam.
Salah seorang polisi mengajak pak
Manto, polisi yang dari tadi ngobrol dengan kami untuk berpatroli, kami pun diajak
untuk ikut kalau mau. Dan Habib meng-iya kan ajakan tersebut, kami berdua
diajak berpatroli malam itu.
Ternyata kami baru tahu kalau
setiap malam para polisi disini berpatroli karena ini memang daerah pesisir dan
berbatasan dengan laut lepas, maka wilayah pantai harus terus dijaga selama 24
jam. Kebetulan juga para polisi yang baik ini sedang jaga malam dan ada tugas
patroli. Kami berdua dengan 2 orang polisi, naik mobil jep khas patroli,
berkeliling pantai perigi, kami juga sempat diajak ngopi bareng dan juga
keliling ke pantai pasir putih. Banyak sekali pengetahuan yang kami dapatkan,
dan benar firasatku aktivitas malam, anak-anak muda pantai adalah
mabuk-mabukan, kami juga sempat melihat adegan mesum yang tertangkap oleh
cahaya dari mobil patroli. Kami juga diajak berkeliling dermaga pelabuhan ikan,
melihat para nelayan mancari ikan di laut dan memang para nelayan memanfaat
angin laut yang terjadi malam hari untuk mendorong kapal mereka ketengah laut
dan mencari ikan. Pemandangan dan pengalaman yang luar biasa dan tak akan
pernah aku lupakan seumur hidup.
Tak terasa pula, waktu menjelang
pagi. Setelah ikut berpatroli dengan pak polisi. Kami kembali ke kantor polsek
Watulimo. Aku dan habib menggunakan waktu beberapa jam dan tempo menjelang
subuh, manfaatkan untuk memjamkan mata sebentar, lumayan lah, daripada tidak
tidur sama sekali. Sebelum tidur aku lihat posisi tidur teman-teman yang tidur
di bangku dalam ruangan, semua wajahnya terlihat lelah dan lelap sekali. Aku
dan habib bingung mencari tempat tidur yang enak. Dari mulai tidur diluar,
sampai tidur dilantai, ah semua hanya sia-sia, kami berdua gak bisa tidur. Baru
beberapa saat ada bangku kosong di dalam ruangan, aku masuk dan membiarkan Habib
tidur sendiri di luar. Kulihat wajah Ema, yang masih terlihat manis meskipun
dalam keadaan capek dan lelah. Selamat malam Em.
Entah ada satu jam tidak aku
tidur, adzan subuh mulai berkumandang, itu artinya kami harus cepat-cepat
bangun, sholat dan berpamitan dengan para polisi disini. Satu persatu kami
mencuci muka, lalu sholat subuh berjamaah dan melanjutkan perjalanan. Terima
kasih pak polisi, entah apa yang harus kami balas, dan kami juga tidak tahu
bagaiman nasib kami jika tidak tidur di polsek watulimo waktu itu.
◊◊◊◊◊
“Wah seru banget mas cerita,
bener-bener berkesan ya mas sampai nginep di polsek lalu di ajak berpatroli”
irhamna memotong ceritaku
“iyalah ir, selain seru ya
deg-deg’an coba bayangkan kalau kami tidak nginep di kantor polsek, wah gak tau
wes.., mungkin sudah jadi korban para pemabuk dipantai”
“terus mas, setelah itu pulang?
Balik ke malang?”
“justru ini dia ir, cerita
intinya, kegilaan kami di pantai pasir putih”
◊◊◊◊◊
Setelah kami berpamitan dengan
para polisi yang baik itu, kami melanjutkan perjalanan ke pasir putih,
sayangkan sudah sampai sini, tidak jadi mampir ke pasir putih. Lagi pula sewa
mobil kami masih sampai nanti sore. Lest’go. Selamat pagi pasir pautih,
keindahan panorama alam pantai menyambut kami, dan singgih sudah hapal jalan
yang kami lalui apalagi ini sudah terang.
Mobil kami masuk area pantai pasir
putih dan harus membayar retribusi. Entah berapa aku juga lupa, kalau tidak
salah per-orang 8ribuan. Plus mobil 5 ribu. Cari tempat parkir yang aman dan
nyaman. Wah sejauh mata memandang terhampar cantik pemandangan pantai yang
indah, dipinggir pantai juga banyak pohon kelapa, di sisi pantai dekelilingi
dengan bukit yang mengitari bibir pantai, cantik sekali ditambah matahari pagi.
Serta ada jembatan yang memang khusus disediakan untuk meloncat dan berenang.
Kami semua seperti puas sekali,
dan membasahkan diri ke pantai. Bermain ombak, menikmati air laut yang
menyegarkan. Rasanya puas sekali, jika di inget peristiwa yang semalam inilah
gantinya. Setelah merasakan ketegangan semalam, saatnya bersantai. Ala anak
pantai.
“ayo bang udin, ayo agak ketengah,
ombaknya tenag bang udin, asyik untuk renang” ajak maknyem
“ayo cepetan bang udin kesini
lho,” teriak Ina. Semua teman-teman sudah menjeburkan diri ke pantai, kulihat
Maknyem dan Ina sangat menikmati, zia dan Eng juga,. Habib Singgih semua
bermain ombak, hanya Ema sendiri yang semula takut untuk menjatuhkan diri ke
air laut.
“ayo em,” aku mencoba mengajak ema
berjalan mengikuti teman yang lain yang sudah berlarian berkejar-kejaran dengan
ombak.
“aku takut bang udin” jawab ema
dengan wajah memelas
“takut apa em, tenang saja
ombaknya enggak besar kok”
“iya, bang aku tahu.., tapi,,,aku
lagi dapet bang”..jelas Ema
“ohhh...,: hanya itu yang keluar
dari mulutku.
Namun tetap aku menemani Ema
berjalan menuju kearah mereka. Hemm anda saja ema pacarku udah tak gandeng
pasti tangannya.
Kesenangan kami sungguh tak bisa
diungkapkan. Bermain dengan ombak, berenang. Berkejar-kejaran. Sungguh
kesenangan yang tak terlupakan. Ada saat yang memalukan saat semua berani
menerjunkan diri dari jembatan yang memang disediakan untuk meloncat dan
berenang hanya aku seorang yang tidak berani. Sungguh memalukaan. Semua mata
melihatku.
“he lihat bang udin tidak berani
loncat” teriak Singgih kepada semua.
Waduh jujur saja. aku memang
phobia kalau sama ketinggian. Trauma masa kecil saat jatuh dari pohon jambu,
memang gak bisa kulupakan.
Lanjut cerita selanjutnya. Setelah
puas bermain dengan ombak, akhirnya kami istirahat sebentar. Aku dan Ema,
sempat bermain gitar lagi dan kuajari Ema memainkan sebuah lagu, kalo ingat
peristiwa itu sangat romantis sayang, semua hanya persaan yang ah mungkin
perasaan biasa antara sahabat. Dan sempat juga kami ditawari para calo perahu
untuk diajak naik perahu, dan di iming-imingi dengan harga murah dan bisa
berkeliling sampai ke pulau yang ada di sebelah ujung pantai ini. Dengan
berunding sebentar kami akhrinya meng-iya kan tawaran tadi, itung-itung mumpung
lagi ada disini dan kapan lagi. Itulah yang mendasari keputusan kami, meskipun
harus merogoh uang lebih untuk naik perahu.
Dan benar saja, kami semua naik
perahu menyenangkan bisa naik perahu. Meskipun sempat takut juga. Baru kali ini
aku naik perahu di laut lepas. Kami semua gembira, melupakan semua masalah.
Bebas. Namun ada momen yang menjengkelkan ketika Ema dan Zia bergantian
meneriakan nama pacar mereka masing-masing huhft sungguh membosankan. Rasanya
ingin kuceburkan diri ini kelaut saja.
Pemandangan indah laut sungguh
memukau mata, air laut yang begitu jernih, sesekali perahu berhanti dan kami
bisa melihat ikan-ikan laut dari atas perahu. Cantik sekali, karang bawah
lautnya juga indah, lengkap sudah, kami seperti liburan beneran. Yang lebih
menarik lagi adalah penawaran dari tukang perahu yang menawarkan kami untuk
mendekat ke kapal tanker batubara yang kebetulan berlabuh di pantai pasir
putih. Penawaran itu tak kami sia-sia kan. Lestgo lagi, perahu kami mulai
sedikit ke tengah dan mendekati kapal raksasa itu.
Perlahan perahu mendekat, dan
ternyata juga disambut baik dari awak kapal. Wah kami waktu itu benar-benar
seperti orang kaya, anak orang kaya yang lagi liburan, benar-benar seru. Dan
setelah mendekat kami disuruh naik satu persatu ke atas kapal raksasa itu.
Kedatangan kami disambut hangat oleh beberapa awak kapal. Seperti wisatawab
beneram, dan memang aku juga merasa takjub juga. Melihat kapal besar, dengan
gagah, dan sekarang aku naik diatasnya.
Setelah berkenalan, kami dibimbing
oleh satu kru kapal yang memang memandu kami untuk berkeliling melihat kapal.
Dan kami juga banyak tahu mengenai kapal itu, ternyta kapal raksasa itu adalah
kapal batu bara dari kalimantan yang akan menuju Pacitan, dan kebetulan
beristirahat di pantai pasir putih. Tak lupa pula kami bernarsis ria didepan
kamera, berfoto-foto dan juga kesempatan langka. Lagi-lagi kapan lagi kita
bersenang-senang seperti ini.
Hampir setengah jam kami berada di
kapal raksasa tadi, dan kemudian berpamitan. Tak lupa pula berfoto-foto dengan
para kru kapal. Lanjut kembali, balik ke pantai lagi. Hah puas banget. Setelah
itu acara kami adalah makan-makan, capek memang dan cukup menguras tenaga, dari
jam 5 pagi sampai 9. Cukup lama juga. Dan kami pun istirahat makan-makan. Yang
tak terlupakan dari acara makan-makan adalah sambel. Ya sambel bikinan Ina,
benar-benar super hot alias pedes sekali. Mungkin jika dianalogikan ada
levelnya mungkin sambel Ina adalah sambel level 13 belas yang pedasnya menggila
bahkan sampai membuat telinga rasanya panas.
Kecerian dipantai, telah usai dan
kami berencana untuk segera bersiap balik juga, mengingat waktu tempuh serta
waktu sewa mobil kai juga sudah terbatas. Tak beberapa lama kemudian, setelag
kami mandi membilas badan dengan air tawar, dan berganti baju. Kami
meninggalkan pantai pasir putih. Selamat tinggal pantai pasir putih, dan
pengalaman di pantai pasir putih tak akan pernah aku lupakan.
◊◊◊◊◊
“terus mas, sudah selesai
ceritanya” Irhamna kembali melirik ke arahku dengan tatapan mata yang aneh.
Aku diam tak menjawab.
“mas boleh nanya sesuatu gak?”
sepertinya Irhamna mulai menggodaku dengan gayanya yang centil itu
“nanaya apa kok pakai izin segala”
“hemmm terus hubungan mas Udin
dengan Mbak Ema, sekarang gimana?”
Pertanyaan yang mengejutkan.
Pertnyaan yang membingungkan juga untuk ku jawab, apa aku harus jujur dengan
Irhamna. Ah terlalu bodoh jika diungkapkan sekarang. Yang jelas rasa sayang
pada Ema, masih ada sampai sekarang, meskipun aku sendiri tidak tahu bagaimana
perasaan Ema yang sesungguhnya kepadaku. Hubungan kami rumit, terkadang kami
juga saling cemburu, tapi apa iya Ema suka padaku. Aku masih ingat bagaimana
jawaban Ema saat aku menembak dia dan mengungkapkan cinta padanya. Dia hanya
bilang kamu itu terlalu baik buat aku. Itulah jawaban Ema. Terus apa sekarang
aku harus lebih jahat, supaya aku bisa mendapatkan mu, ah entalah. Hubungan ku
dengan Ema, memang misteri, seperti misteri yang tersimpan di hati
masing-masing. Biarlah kenangan indah itu akan selalu ada.
“mas? Kok bengong” suara Irhamna
mengagetkanku.
“mas udin masih cinta ya sama Mbak
Ema” goda irhamna lagi. Dengan wajah yang mulai menjengkelkan, seperti anak kecil
yang mengejek
“ah entahlah Ir, hanya kami yang
tahu, cerita kami masih panjang, tapi suatu waktu aku yakin kita akan berakhir
bahagia”
“cie-cie, mas udin rek”..suara
Irhamna keras, sekali diikuti dengan langakah kaki meninggalkan, dan mengejekku
“huh dasar....,” tiba-tiba Irhamna
berlari dan ku kejar seperti adik ku.
Sekian cerita pantai pasir putih.
0 comments:
Post a Comment