Pages

Thursday, March 21, 2013

meitasari


Meitasari
Meskipun hanya sebentar setidaknya aku pernah mencintaimu
2 bulan lalu sebelum semua peristiwa ini terjadi, bayangan indah masa-masa yang telah kita lalui saat bersama muncul begitu saja di benakku.
Semula berawal saat aku mengenalnya, dia temen satu kelas dengan ku namanya Meita. Dia adalah salah satu gadis cantik dan merupakan anak orang kaya di kota ini. Aku baru sadar dan mngerti ternyata hatiku menyimpan perasaan ke meita, ketika itu saat pesta ulang tahun yang begitu meriah dirumahnya. Kami temen satu kelas diundang, pesta itu sungguh megah, banyak hiasan-hiasan pesta, makanan serta musik yang merdu diseluruh ruangan pesta. Seperti seorang bidadari meita begitu cantik memakai gaun merah muda berjlan anggun  melewati ku. Seketika itu hati ku bergetar melihatnya, begitu berbeda malam itu meita sungguh cantik. Dibanding saat berada di kelas seperti biasanya.
Malam itu mungkin sebuah keberuntunganku bisa dekat dengan meita, ya mungkin selama ini aku memang dekat dengan meita, geng meita aku sudah terlalu akrab dengan mereka. Ada Ana, Ninin dan juga Taya. Haha kami selalu gila-gila an bersama. Pesta berjalan dengan meriah dan tak kusangka, sebelum pesta berakhir sebuah kertas berwarna merah muda, diberikan Ninin kepadaku. “Apa ini Nin?” tanya ku penasaran, “Ya lihat aja sendiri aku juga engak tau”?jawab Ninin dengan tatapan yang aneh. Dan sebelum kubaca isi tulisan di kertas itu, meita sudah beranjak pergi meninggalkan ku.
Van, entah apa yang terjadi dengan perasaanku ini, hari ini aku sungguh bahagia karena hari ini aku berulangtahun, namun hatiku masih merasa ada yang kurang, rasanya dalam hati ini terasa hampa. Aku tidak berharap hadiah yang spesial dari mu. Aku hanya ingin memiliki mu Van. Aku cinta kamu Van”
Tulisan itu begitu singgkat, langsung aku sentak terkejut ternyata meita mencintaiku. Oh.., ya tuhan apa yang sebenarnya terjadi, apa aku bermimpi dan masih tidur, hemm seperti melayang rasanya membaca pesan dari meita malam itu. Kesempatan ini tidak ku sia-sia kan., sebelum bayangan meita semakin menjauh ke kejar dia, dan ditengah keraimaian pesta ku beranikan diri untuk menyatakan cinta ke meita. Ke kujar meita, dan ku pegang tangannya, layaknya seorang lelaki sejati seperti kutirukan gaya adegan di film-film cinta. Lalu aku setengah jongkok., sambil ku hadiah kan sekuntum bungan mawar yang memang sudah ke persiapkan, dan acara penembakan dadakan ini sunguh seru., seluruh tamu undangan bersorak riang.
“mei., sebenernya aku juga menyimpan rasa yang sama sepertimu, aku juga mencintaimu dan maukah engkau menjadi pacarku” wajah mei terlihat tersipu malu dengan mata yang berkaca-kaca terharu mendengar ucapanku tadi. “benarkah Van, kamu juga mencintai ku?” balas mei “Apa aku bercanda?” jawabku, tanpa berkata lagi mei langsung memeluk tubuhku dan terharu “Aku sayang kamu van” bisik mei di telingaku., malam itu rasanya aku sangat bahagia sekali. Dan itulah awal kisah ku dengan mei.
®®®®®®®®®®
Hari-hari begitu indah ku jalani bersama mei, mei selalu menyemangati ku. Dia sungguh manis, manja tapi juga luar biasa. Aku sangat menikmati hubungan kami. Seperti 1 bulan sebelum peristiwa itu terjadi.
Tepat 1 bulan setelah kami jadian. Malam minggu yang berkesan saat kami jalan bersama dan duduk berdua di pinggir kali dan menikmati bulan purnama yang indah. Mei duduk disampingku dan menyandarkan kepalanya di pundakku, rambutnya yang terurai panjang dan sedikit bergelombang hemm aroma yang khas ku belai rambutnya. “Van aku pengin nanya sesuatu ..,” tiba-tiba mei berkta pelan sambil menatap wajah ku. “Apa mei, ?” aku balik bertanya penasaran. “Van kamu mau berjanji gak demi aku” mei terlihat serius dan menggenggam tangan kiriku dengan kuat. “iya mei apa pun akan ku lakukan demi bidadari secantik kamu” goda ku. “Van, kamu harus berjanji untuk terus ceria menjalani hidup ini, apapun yang terjadi.’’ Mei terlihat sendu. “memang kenapa mei, aku kan terus ceria mei aku akan selalu ceria karena ada bidadari yang selalu menemani aku.” Van..,” mei berhenti dan tidak berkata dan menatap wajahku dalam-dalam dan memeluk tubuh ku. Aku sayang kamu Van., bisik mei lirih di telingaku.
Sayang mungkin itulah malam minggu ter-indah yang pernah kurasakan bersama mei. Dua minggu setelah malam itu, hal yang tidak pernah keinginkan terjadi. Mei yang selama ini selalu menemani ku, mei yang selalu ceria, mei yang selalu menyemangatiku, mei yang segalanya untuk ku. Mei.., mei mengalami musibah kecelakaan yang sangat parah. Mobil yang dikendarai oleh keluarga mei jatuh ke jurang, beruntung tidak ada yang meninggal, namun setelah kejadian itu, mei sampai sekarang masih belum sadar dari komanya.
Sudah dua minggu ini, aku selalu rutin setiap pulang sekolah menjenguk mei dirumah sakit. Aku selalu menuggunya, berharap dia segera sadar dari koma, berharap aku bisa melihat mei tersenyaum riang, berharap untuk bisa bersama kembali menikmati kenangan-kenangan indah itu lagi. Aku semakin cemas ketika dokter berkata bahwa kemungkinan mei untuk sembuh adalah sebuah keajaiban karena mei mengalami pendarahan yang cukup parah di otaknya.
Mei., bangunlah mei., untuk sekedar menyapaku, bangunlah mei, tersenyumlah padaku. Ku dekap telapak tangan mei, mei ayolah mei. Hatiku bicara sendiri dan mentap cemas semoga tuhan memberikan keajaibanya padaku. Dan tiba-tiba tangan mei bergerak pelan, ya tuhan.., mata mei bergerak pelan dan terbuka. Mei ya mei mulai sadar dari koma., aku semakin bersemangat. Mei sepertinya ingin bicara padaku, lalu kubuka penutup oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya.
“Van.., Ichvan..”suara mei lirih memanggil namaku. “iya mei., aku akan selalu menunggu mei”jawab ku. “Van terima kasih atas kebahagian yang telah kamu berikan selama ini., aku sangat bersyukur bisa mengenalmu Van, maafkan aku Van, mungkin kita tak bisa bersama lagi, Van berjanjilah untuk selalu ceria, masih ada kebahagian yang akan datang padamu Van, percayalah”. Aku kaget mendengar kata-kata mei tadi., “mei jangan bilang begitu mei, kita masih bisa bersama jalan bersama lagi, bermain bersama dan menikmati bulan purnama bersama”aku mencoba membalasnya. Tangan mei ku genggam erat-erat.,”Van” dan sebelum mei benar-benar pergi, mei tersenyum padaku. Aku seperti tidak percaya dengan kenyataan ini, mengapa mengapa? Begitu singkat sekali? 2 bulan yang indah bersama mei kini telah berkahir untuk selama-lamanya.
Mei meskipun hanya sebentar setidaknya aku pernah mencintaimu

By: R_R

0 comments:

Post a Comment

 

Blogger news

Blogroll

About