Pages

Thursday, March 21, 2013

meitasari


Meitasari
Meskipun hanya sebentar setidaknya aku pernah mencintaimu
2 bulan lalu sebelum semua peristiwa ini terjadi, bayangan indah masa-masa yang telah kita lalui saat bersama muncul begitu saja di benakku.
Semula berawal saat aku mengenalnya, dia temen satu kelas dengan ku namanya Meita. Dia adalah salah satu gadis cantik dan merupakan anak orang kaya di kota ini. Aku baru sadar dan mngerti ternyata hatiku menyimpan perasaan ke meita, ketika itu saat pesta ulang tahun yang begitu meriah dirumahnya. Kami temen satu kelas diundang, pesta itu sungguh megah, banyak hiasan-hiasan pesta, makanan serta musik yang merdu diseluruh ruangan pesta. Seperti seorang bidadari meita begitu cantik memakai gaun merah muda berjlan anggun  melewati ku. Seketika itu hati ku bergetar melihatnya, begitu berbeda malam itu meita sungguh cantik. Dibanding saat berada di kelas seperti biasanya.
Malam itu mungkin sebuah keberuntunganku bisa dekat dengan meita, ya mungkin selama ini aku memang dekat dengan meita, geng meita aku sudah terlalu akrab dengan mereka. Ada Ana, Ninin dan juga Taya. Haha kami selalu gila-gila an bersama. Pesta berjalan dengan meriah dan tak kusangka, sebelum pesta berakhir sebuah kertas berwarna merah muda, diberikan Ninin kepadaku. “Apa ini Nin?” tanya ku penasaran, “Ya lihat aja sendiri aku juga engak tau”?jawab Ninin dengan tatapan yang aneh. Dan sebelum kubaca isi tulisan di kertas itu, meita sudah beranjak pergi meninggalkan ku.
Van, entah apa yang terjadi dengan perasaanku ini, hari ini aku sungguh bahagia karena hari ini aku berulangtahun, namun hatiku masih merasa ada yang kurang, rasanya dalam hati ini terasa hampa. Aku tidak berharap hadiah yang spesial dari mu. Aku hanya ingin memiliki mu Van. Aku cinta kamu Van”
Tulisan itu begitu singgkat, langsung aku sentak terkejut ternyata meita mencintaiku. Oh.., ya tuhan apa yang sebenarnya terjadi, apa aku bermimpi dan masih tidur, hemm seperti melayang rasanya membaca pesan dari meita malam itu. Kesempatan ini tidak ku sia-sia kan., sebelum bayangan meita semakin menjauh ke kejar dia, dan ditengah keraimaian pesta ku beranikan diri untuk menyatakan cinta ke meita. Ke kujar meita, dan ku pegang tangannya, layaknya seorang lelaki sejati seperti kutirukan gaya adegan di film-film cinta. Lalu aku setengah jongkok., sambil ku hadiah kan sekuntum bungan mawar yang memang sudah ke persiapkan, dan acara penembakan dadakan ini sunguh seru., seluruh tamu undangan bersorak riang.
“mei., sebenernya aku juga menyimpan rasa yang sama sepertimu, aku juga mencintaimu dan maukah engkau menjadi pacarku” wajah mei terlihat tersipu malu dengan mata yang berkaca-kaca terharu mendengar ucapanku tadi. “benarkah Van, kamu juga mencintai ku?” balas mei “Apa aku bercanda?” jawabku, tanpa berkata lagi mei langsung memeluk tubuhku dan terharu “Aku sayang kamu van” bisik mei di telingaku., malam itu rasanya aku sangat bahagia sekali. Dan itulah awal kisah ku dengan mei.
®®®®®®®®®®
Hari-hari begitu indah ku jalani bersama mei, mei selalu menyemangati ku. Dia sungguh manis, manja tapi juga luar biasa. Aku sangat menikmati hubungan kami. Seperti 1 bulan sebelum peristiwa itu terjadi.
Tepat 1 bulan setelah kami jadian. Malam minggu yang berkesan saat kami jalan bersama dan duduk berdua di pinggir kali dan menikmati bulan purnama yang indah. Mei duduk disampingku dan menyandarkan kepalanya di pundakku, rambutnya yang terurai panjang dan sedikit bergelombang hemm aroma yang khas ku belai rambutnya. “Van aku pengin nanya sesuatu ..,” tiba-tiba mei berkta pelan sambil menatap wajah ku. “Apa mei, ?” aku balik bertanya penasaran. “Van kamu mau berjanji gak demi aku” mei terlihat serius dan menggenggam tangan kiriku dengan kuat. “iya mei apa pun akan ku lakukan demi bidadari secantik kamu” goda ku. “Van, kamu harus berjanji untuk terus ceria menjalani hidup ini, apapun yang terjadi.’’ Mei terlihat sendu. “memang kenapa mei, aku kan terus ceria mei aku akan selalu ceria karena ada bidadari yang selalu menemani aku.” Van..,” mei berhenti dan tidak berkata dan menatap wajahku dalam-dalam dan memeluk tubuh ku. Aku sayang kamu Van., bisik mei lirih di telingaku.
Sayang mungkin itulah malam minggu ter-indah yang pernah kurasakan bersama mei. Dua minggu setelah malam itu, hal yang tidak pernah keinginkan terjadi. Mei yang selama ini selalu menemani ku, mei yang selalu ceria, mei yang selalu menyemangatiku, mei yang segalanya untuk ku. Mei.., mei mengalami musibah kecelakaan yang sangat parah. Mobil yang dikendarai oleh keluarga mei jatuh ke jurang, beruntung tidak ada yang meninggal, namun setelah kejadian itu, mei sampai sekarang masih belum sadar dari komanya.
Sudah dua minggu ini, aku selalu rutin setiap pulang sekolah menjenguk mei dirumah sakit. Aku selalu menuggunya, berharap dia segera sadar dari koma, berharap aku bisa melihat mei tersenyaum riang, berharap untuk bisa bersama kembali menikmati kenangan-kenangan indah itu lagi. Aku semakin cemas ketika dokter berkata bahwa kemungkinan mei untuk sembuh adalah sebuah keajaiban karena mei mengalami pendarahan yang cukup parah di otaknya.
Mei., bangunlah mei., untuk sekedar menyapaku, bangunlah mei, tersenyumlah padaku. Ku dekap telapak tangan mei, mei ayolah mei. Hatiku bicara sendiri dan mentap cemas semoga tuhan memberikan keajaibanya padaku. Dan tiba-tiba tangan mei bergerak pelan, ya tuhan.., mata mei bergerak pelan dan terbuka. Mei ya mei mulai sadar dari koma., aku semakin bersemangat. Mei sepertinya ingin bicara padaku, lalu kubuka penutup oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya.
“Van.., Ichvan..”suara mei lirih memanggil namaku. “iya mei., aku akan selalu menunggu mei”jawab ku. “Van terima kasih atas kebahagian yang telah kamu berikan selama ini., aku sangat bersyukur bisa mengenalmu Van, maafkan aku Van, mungkin kita tak bisa bersama lagi, Van berjanjilah untuk selalu ceria, masih ada kebahagian yang akan datang padamu Van, percayalah”. Aku kaget mendengar kata-kata mei tadi., “mei jangan bilang begitu mei, kita masih bisa bersama jalan bersama lagi, bermain bersama dan menikmati bulan purnama bersama”aku mencoba membalasnya. Tangan mei ku genggam erat-erat.,”Van” dan sebelum mei benar-benar pergi, mei tersenyum padaku. Aku seperti tidak percaya dengan kenyataan ini, mengapa mengapa? Begitu singkat sekali? 2 bulan yang indah bersama mei kini telah berkahir untuk selama-lamanya.
Mei meskipun hanya sebentar setidaknya aku pernah mencintaimu

By: R_R

Tuesday, March 19, 2013

kencan balas dendam


Kencan Balas Dendam
Ini adalah sebuah cerita unik tentang kisah cinta antara sahabat, teman, dan hubungan yang menggantung. Sebulan yang lalu, sore itu memang sengaja sepulang sekolah aku mampir dulu ke perpus untuk mencari buku, menambah refrensi persiapan presentasi minggu depan. Udah lama juga aku gak pernah main ke perpus, jangankan main, mampir ke dalam saja bisa dihitung pakai jari. Hari ini pun kalo gak terpaksa karena teman satu kelompokku anaknya males-mels semua, aku juga gak bakalan mau ke perpus. Hal yang membuatku jenuh di perpus adalah sepi, mau baca saja harus sunyi, jujur saja aku malah terbiasa dengan lingkungan rame, jadi setiap belajar pasti radio atau mp3 harus tersedia.
“hai pram”.., suara dari belakang dan tepukan di pundakku, sedikit mengagetkanku.
“lagi cari buku apa Pram, kok tumben mau ke perpus” goda Kiki kepadaku
Uh, sumpah kalo aku gak emosi mungkin udah gue bentak dia, sok yang paling rajin aja, ngatain aku baru lihat masuk perpus.
“eh ini Ki, nyari refrensi buat presentasi Bu Meta” balasku datar
“Bu Meta?? Kelompok berapa kamu Pram?” tanya Kiki
“kelompok 5 minggu depan udah presentasi” balasku lagi
“Bu Meta, Guru Ekonomi kan??”tanya Kiki sok akrab.
“iya, guru apa lagi coba, satu-satunya Guru yang super wow anak IPS kan Cuma bu Meta” goda ku.
“wah kebetulan sekali Pram, baru saja hari ini aku selesai presentasi Bu Meta, dan kebetulan lagi aku juga kelompok 5, jadi kita satu judul” jelas Kiki
Hemm kebetulan sekali, kenapa enggak minta tolong saja sama dia, lumayan kan gak susah-susah nyari refrensi yang banyak tinggal copas, udah selesai. Gumam ku dalam hati. Kesempatan pram, kapan lagi coba, bisik setan sebelah kiri.
“eh Ki, walau kita udah gak sekelas lagi, boleh dong aku minta tolong” rayu ku
“mau lihat kerja kelompokku?” lirik Kiki padaku
“hehe iya lah, masak mau lihat yang lain seh” goda ku, sambil kepegang pundaknya
“Wah, Pram.. jangan begitu dong,..aku kan malu” genit Kiki kepadaku
Kalo ini bukan karena tugas ihh, gak bakalan aku ngerayu kiki kayak gini, gumam hati ku. Dan tentu saja Pramono selalu sukses, tinggal minta flasdisk dari Kiki tugas dari Bu Meta dah beres. Untung ketemu sama Kiki,.,
◊◊◊◊◊
“ayo lah Vi, temenin aku, kapan lagi coba acara ini tuh setahun sekali, pekan vestifal seni” ajak ku kepada Via.
“aduh gimana ya pram, aku gak bisa pergi kalo gak ngajak Lily,” minta Via kepadaku
“hemm gitu ya, ya gak papa ajak Lily sekalian, ntar kita berangkat bareng juga sama anak-anak kelas ku” balas ku
“hah” nada suara Via terdengar kaget, mendengung ditelingaku. “ Apa Pram nanti kita berangkat bareng sama anak kelasmu?”
“iyah, kan tambah seru kalo rame-rame”
“ya seh rame, tapi apa kata anak-anak nanti kalo kita jalan bareng,..!! suara Via semakin cemas terdengar di telpon.
Belom sempat aku bicara, suaranya putus, dan ternyata pulsa ku dah habis, sial. Wah bagaimanapun aku harus bisa ngajak Via jalan bareng, ini kesempatan kapan lagi dan semoga ini berhasil, akan ku lihat bagaimana reaksi  si Quen jika tahu kalo aku bisa jalan bareng sama Via.
◊◊◊◊◊
Sore itu, setelah aku copas tugas dari flasdisk yang dipinjam kan Kiki. Secara tiba-tiba Via, mengirim sms kepadaku dan minta ditemani untuk memberi makan kelinci baru. Oh iya, perkenalan ku dengan Via, juga secara gak sengaja kami bertemu saat dipasar hewan, waktu itu aku rela mengejar kelinci yang lepas, gadis manis itu berlari mengejar kelincinya yang lepas, spontan saja aku juga ikut mengejar, tak perduli deh, aku sudah lupa kalo tujuanku kesini adalah disuruh ayah untuk membeli pakan burung. Dan akhirnya sejak saat itulah aku mengenal Via, dan yang lebih bikin aku tertawa adalah ternyata Via, itu teman satu sekolah denganku, bahkan sama satu jurusan yang membedakan hanya kelas kita yang berbeda. Ya ampun saat itu, aku baru sadar ternyata ada gadis semnis Via adalah tetangga kelas dan baru kenal.
Kembali lagi, setelah dari perpus, Via mengajakku untuk membeli wortel dan rerumputan di pasar guna pakan kelinci. Dan yang bikin aku deg-deg an adalah wajah tersenyum Via yang begitu manis sekali, membuat  suasana sore itu, hemm khayalanku sudah kemana-mana, suara manja itu,.
“Pram, gak ngrepotin kan, aku ngajak kamu kesini??”
“enggak kok Vi, justru aku malah seneng, bisa bantu kamu” goda ku
“Makasih lho Pram, oh iya kalo ada waktu sering-sering aja main kesini”minta Via
“wah, beneran Vi, entar apa malah gak ngerepotin ibumu yang repot bikin jus jambu” kami tertawa bersama. Sore yang penuh kenangan dengan Via. Diteras rumahnya.
Sejak saat itu hubunganku dengan Via semakin hari semakin dekat. Hari demi hari ada yang beda yang kurasakan saat bersama Via. Aduh apakah aku jatuh cinta dengan Via? Lalu bagaimana dengan Quen??...
◊◊◊◊◊
“eh Wan, mana seh anak-anak? Katanya ngumpul jam 4 disini?” tanyaku pada Iwan, yang memang baru beberapa anak yang  sudah ngumpul. Kita satu kelas udah janjian untuk ngumpul bareng nonton pameran seni.
“belom tahu aku Pram, mungkin bentar lagi, mereka kesini, tadi seh udah aku sms semua untuk tepat waktu” jelas Iwan padaku
Sebenernya aku juga msih nunggu Via datang dengan Lily, yah aku kan sudah janji, semoga aja dia datang. Dan aku juga berharap kalo Quen juga datang, acara ini akan lebih seru lagi hahaha, tawaku dalam hati.
“nah itu di Pram anak-anak udah pada datang” tunjuk Iwan pada gerombolan anak-anak yang memang baru pada datang, dan aku lihat sekejap ternyata Quen juga ada. Wah bagus, tinggal nunggu Via dan Lily. Dan beberapa menit kemudian, Via datang dengan Lily, ok deh. Susana mulai berubah saat mobil Iwan penuh dengan rombongan anak-anak, yang bikin rame adalah aku bisa ngajak Via, haha aku puas lihat wajah Quen yang berubah muram.
“Wah Pram, gebetan baru ne”?, goda iwan dan temen-temen lainnya padaku
“ya gitu deh Wan, “ balas ku singkat
“apaan seh Pram, aku kan jadi malu” Via mencubit pinggangku yang bikin aku kaget
“maaf ya Vi, kalo kamu malu ketemu sama temen-temen ku, tapi mau bagaimana lagi nikmatin aja ya Vi” rayu ku pada Via. Via tak menjawab hanya tersenyum sinis
Beberapa menit kemudian kami sampai di acara pameran seni yang diadakan di balai kota.
“eh pram, jujur aja ya, aku gak enak banget ni sama Quen”
“ah ngomong apa seh Vi, udah gak papa kok, siapa dia, siapa kita coba?”
“yah bukannya begitu Pram, tapi lihat deh wajahnya Quen, kayaknya jengkel banget sama kita”
“ah biarin aja Vi, aku juga kesel sama dia, siapa suruh juga ngegantungin hubungan, tahu ndiri kan Vi, Quen itu aslinya  kayak apa”jelasku
“hemm iya juga ya Pram,..! siapa dia juga, cemburu sama kita” Via menguatkanku
Emang sengaja Vi, aku lakukan ini. aku sengaja mengajakmu kencan dan sengaja pula dengan teman satu kelas yang kebetulan Quen ada. Biarlah mungkin ini kebetulan namun ini seperti sinotron. Ya rasa kesalku slama ini kepada Quen sudah terbalaskan.
◊◊◊◊◊
Seminggu yang lalu sebelum ke acara pameran seni. Aku masih ingat gimana perasaanku waktu itu. Sore itu benar-benar membuatku tersadar siapa sebenarnya Quen itu. Memeng seh jauh sebelum aku mengenal Via, aku sudah dekat dengan Quen. Ya sejak masuk disekolah ini bahkan, jujur aku memang suka sama Quen. Perjalanan kisah kita pun cukup menyenangkan, pertemenan dan kedekatan kita lancar-lancar saja. banyak kisah sepanjang aku dekat dengan Quen. Lama-kelamaan aku tak bisa menahan perasaanku kepadanya, ingin sekali ku ungkapkan isi hatiku untuknya namun selalu saja tidak bisa, entah kenapa aku juga tak tahu. Aku rasa Quen juga udah paham kalo aku suka padanya. Seiring berjalannya waktu, aku mencoba untuk cuek dengan Quen, aku tahu ini sangat berat bagiku namun dengan ini aku akan tahu apakah Quen juga sayang padaku.
Saat masa-masa itulah, aku kebetulan juga mengenal Via. Dan sungguh aku sangat kaget sore itu, saat aku dan Via pulang dari sekolah aku melihat Quen sedang berboncengan motor mesra sekali dengan Han. Sejak saat itu aku baru tahu kalo ternyata Quen memiliki hubungan istimewa dengan Han. Sungguh aku sangat kaget, tapi aku bersukur saat Quen menjauh ternyata ada Via yang menemaniku.
◊◊◊◊◊
Dua hari setelah pemeran seni itu. Aku dan Via resmi berpacaran. Dan kini selamat tinggal Quen. Aku akan coba melupakanmu... masih banyak gadis yang lebih darimu ...


Monday, March 18, 2013

Eline


Ellinee..
Pikiranku masih saja tidak tenang, entah kenapa bisa seperti ini. Aktivitasku berjalan seperti biasanya, tak ada yang spesial, sama sekali. Terlalu “alay” aku menyebutnya jika pertemuan tadi pagi, itu sebagai hal yang spesial. Perjalanan menuju kampus, melewati jalan yang setiap hari kulewati. Sama seperti hari-hari kemarin, kemarinya lagi bahkan tetap sama seperti setahun yang lalu saat aku baru mengenal daerah ini. Melawati gang sempit lorong rumah penuh kaca, dan setiap kali aku lewat gang ini adalah kebiasaan untuk berkaca, sedikit bergaya bak pangeran yang akan menjemput sang puteri. Hiburan melewati lorong di gang ini, ada kicauan burung kenari di pojok gang pemilik rumah ini, dan setiap melewatinya seolah burung kenari itu seperti mengucapkan selamat pagi padaku. Cantik sekali secantik warna bulu yang menghiasinya.
                Dan tak terasa, ada 4 belokan udah aku lewati, namun sejatinya setiap kita berjalan hanya ada 2 belokan meskipun kita menghitungnya lebih dari 2, tahu engak kenapa?karena sejatinya belokan jalan itu hanya ada 2 yaitu belok kanan dan belok kiri. Aspal jalan ini masih terlihat basah oleh air hujan malam tadi, ya memang dua hari terakhir, setiap sore hujan deras selali mengguyur wilayah kota ini. Bahkan semalem hujan deras disertai angin dan juga petir. Sekitar tepi jalan masih terlihat sampah berserakan bekas kena air hujan. Didepan ada belokan terakhir sebelum aku sampai kejalan raya depan kampus. Dari ujung aku berjalan santai dan sedikit kuperhatikan sepertinya aku kenal dengan sosok perempuan yang berjalan cepat-cepat di depan ku.
                Dugaanku tidak salah, ya tidak salah lagi itu Eline, salah satu temen yang kebetulan sekelas denganku. Dan pertemuan pagi itu, ah seperti seolah bertemu dengan orang yang spesial, msih terlalu pagi untuk mengatakan ini sebuah kesempatan, jangan terlalu GR alias gede rasa ini mungkin hanya sebuah kebetulan, lagian kostnya Eline ka memang di gang terkahir ini.  Dan sebelum  kami berdua menyebrang jalan aku sempat memperhatikan sekilas wajahnya yang sok cuek tapi tetep terlihat manis dengan dandanan yang simpel elegan. Kami menyebrang sendiri-sendiri terlalu “wow” kalo sampai kami bergandengan tangan iya kan??..
                Setelah sampai sebrang jalan, lalu kau coba menyapa Eline. Hemm khas bau parfum yang menyengat hidung langsung menelusup indra penciumannku, merangsang otakku dan memberi pesan bahwa inilah aroma parfum seorang cewek yang “wow” amazing, apa Eline mandinya hanya pakai parfum gak pakai air haha.
                “pagi Eline, tumben kok sendiri, kok enggak bareng sama Aida??” aku mencoba memecah suasana untuk bertanya pada Eline.
                “enggak kok, aku buru-buru jadi gak bisa bareng Aida, aku mau Presentasi” jawabnya singkat
                “hemm gitu ya, tak kira kalo lagi ada masalah hehe” canda ku kepadanya, namun eline seolah tak menganggap aku. Huh dasar cewek sombong sok kecantikan loe, padahal biasa aja cuma menang bodi.
                Sepanjang jalan, meskipun kami bersama eline sengaja jalan sedikt cepat di depan ku. Ok, jalan sana sendiri aku juga gak mau kalo nanti ada gosip yang enggak-enggak pas ketemu temen-temen, gumamku dalam hati.
Setelah sampai kelas ya biasa aja, huh saat dia maju presentasi, aku cuekin aja, lagian aku juga males bertanya. Ngapain, untuk mata kuliah ini kan yang penting masuk dan sudah ambil jatah bertanya dan menjawab so..tenang aja. Berdiam diri terkadang lebih baik dari pada sok cari perhatian. Kayak Fadil, yang lagaknya sok intelek, padahal yang di omongkan hanya mbulet tok, malah bikin bingung.
Dalam suasan seperti ini, menengok kebelakang mungkin lebih baik sedikit mencuri pandang kepada Rina, gadis imut dikelas ini, meskipun dulu aku sempat dekat dengan Rina namun sekarang udah enggak lagi. Ya mending aku dulu pernah dekat dengan rina meskipun tak dapat memilikinya. Eh kembali ke topik sekarang adalah Eline. Gadis yang baru 3 bulan ini aku mulai dekat dengannya. Pernah sih bebrapa waktu yang lau kami kencan pdkt pertama, ya gitu dia terlihat menarik.
♪♪♪♪♪
2 bulan yang lalu. 2 bulan yang lalu kondisi kelas kami berubah. Kebijakan program yang gak jelas membuat situasi semakin membuat semua penuh tanda tanya. Bidang akademik fakultas juga bingung gara-gara ulah sekretaris jurusan yang mencoba trobosan baru yaitu membuat prodi bidang peminatan. Sayangany ide dari sekretarisjurusan ini kurang realisasi kepada para mahasisiwa khususnya pada anggakatan semester kami. Dan hasil dari kurangnya sosialisasi tersebut membuat kami satu anggkatan meresa dipermainkan. Bagaimana tidakcoba bayangkan saja, jika satu kelas diisi oleh lebig dari 50 mahasiswa.
Sedikit ganjalan ini adalah awal pertemuan kami. Kelasku menjadi kelas raksasa yang memuat banyak mahasiswa. Justru disini awalnya aku bertemu dengan Eline, ya Eline salah satu  mahasiswi yang mengalami akibat perpindahan kelas gara-gara kebijakan baru tersebut. Mau tidak mau semua berubah, bercampurnya 2 kelas dalam satu kelas. Inilah kesalahan yang seharusnya dijadikan pelajaran untuk semester berikutnya.
Awalnya seh kondisi ini sangat tidak nyaman bahkan terlalu wow, bagi ku. Namun dengan seiring berjalannya waktu, kondisi ini jadi terliihat biasa. Apalagi setelah aku tahu kalo ternyata ada beberapa anak cewek yang manis dan cantik dari tetangga sebelah, sebagian seh dah kenal namun beberapa merupakan wajah baru yang ku kenal, yah meskipun kami tetangga namun kami jarang ketemu dan saling mengenal.
Baiklah inilah mula permasalahan dan kenapa hingga malam ini aku sulit untuk memejamkan mata. Ada salah saru cewek yang memang seh wajahnya mirip dengan teman SMA ku dulu, dan kebetulan juga kami bisa satu kelompaok dalam bebrapa mata kuliah dan karena aku juga mempunyai posisi yang strategis makan perkenalan pun terjadi. Tukar nomor hp pun terjadi dan komunikasi sedikit demi sedikit terjalin. Situasi iniliah yang membuat aku mempuanyai perasaan kepada Eline. Pernah suatu malam aku jemput dia, untuk sekedar manghibur diri jalan-jalan ke kampus. Aku jemput dia di kostnya. Dia pun seolah memberi sinyal positif untuk aku deketin, ok pucuk dicinta ulam pun tiba.
Lama-kelamaan hubungan kami semakin dekat. Namun entah kenapa sejak makan bersama bulan lalu, dengan anak-anak kami seolah gimana gitu, mungkin aku sendiri yang terlalu lama untuk membicarakan ini kapada Eline, atau mungkin juga ada suatu haal yang mencurigakan menurutku. Dari info temen dekatnya seh, si Aida kalo Eline masih jomlo, namun aku sedikit curiga karena Eline kok begitu dekatnya dengan Fadil seolah mereka mempunyai hubungan iatimewa yang sengaja mereka rahasiakan.
Pukul 23.14 mataku masih belum terpejam mengingat semua peristiwa yang telah berlalu. Oh Tuhan kenapa hubungan cintaku dengan Eline bisa ruwet seperti ini, peristiwa tadi pagi. Pengakuan 3 minggu lalu saat aku coba beranikan diri mengutarakan isi hati padanya dan memberikan hadiah sebuah novel. Ya semoga itu bisa jadi kenangan indah untuknya. Eline, mungkin memang membiarkanmu menjauh lebih baik daripada harus berpura-pura saling mencintai.  Selamat malam semoga engkau bahagia dengan jalan yang kau pilih.
 

Blogger news

Blogroll

About