Pages

Sunday, April 28, 2013

Kaca Mata Helena


Suara riang, canda tawa, terdengar lepas, hampir seluruh teman di ruang kelas, kami semua ikut tertawa, termasuk aku yang tadi diam, dan sempat mengantuk tiba-tiba bangun dan ikut tertawa. Sebenarnya aku tidak tahu detail kejadiannya seperti apa, namun aku cuek saja, bergaya tahu dan ikut tertawa. Tiar, yang duduk disebalah ku masih tertawa, sampai terpinggkal-pingkal memegang perutnya. Ekspresinya benar-benar lepas.

“Bimo, cepat keluar lalu cuci muka, bapak tidak mau ada siswa ngantuk dan meremehkan ketika saya sedang  mengajar” terdengar suara Pak Fuad, tegas memecah suara tawa kami. “jelas-jelas ini pelajaran ekonomi bukan geografi, enak saja kau malah menggambar pulau di meja dengan air liur mu” belum sempat pak Fuad selesai berkata, anak-anak sudah tertawa lagi, membuat suasana kembali ramai. Haha aku juga kembali tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi dari wajah Bimo, yang terlihat lugu dan polos. “sudah-sudah diam semua, konsentrasi lagi ke pelajaran” suara pak Fuad terdengar keras, mengendalikan suasana ribut akibat tawa kami. Semua anak-anak di kelas, diam dan kembali normal. Bimo, dengan muka terlihat kusut, dengan sedikit belepotan mengusap air liur yang ada dipipi dengan telapak tangan segera keluar meninggalkan kelas menuju kamar mandi

Bener-benar lucu sekali, kau Bimo. Benar-benar menggelikan peristiwa tadi, kenapa kau sampai tertidur pas pelajaran ekonomi, pak Fuad lagi” kata Tiar yang menepuk-nepuk pundak Bimo yang ada di sebelahnya. Bimo terlihat sedikit jengkel, dan diam tidak langsung menanggapi kata-kata dari Tiar. Aku yang duduk di sebelah Arya hanya diam, dan menahan tawa, kulihat Arya juga demikian. Memang lucu jika mengingat peristiwa tadi. 

“ah sudahlah tidak usah dibahas, tidak lucu tahu” gertak Bimo, sedikit marah dan menyampar kue di depannya. Bimo mengunyahnya sambil melihat sinis ke arah Tiar.

“he kawan, tidak usah emosi gitu lah, santai, kami kan teman mu semua, wajarlah jika kami ingin tahu kenapa sampai kau mengantuk, tidak biasanya bukan kau mengantuk di kelas, sampai ngiler pula” lagi-lagi Tiar dengan nada terdengar mengejek di kalimat terakhirnya.

Bimo tidak langsung menaggapi masih terus mengunyah dan mengambil teh botol di depannya. “dengar ya, kalian mau tahu kenapa aku tadi sampai mengantuk dan tertidur di kelas, “ intonasi Bimo berubah, seolah dia ingin bercerita, dan ada sedikit rahasia yang disembunyikannya. Lirikan matanya, mengarah kepada kami semua. Aku yang tadi hanya diam, jadi ikut mendekat dan penasaran cerita dari Bimo. 

“kalian tahu, semalem aku tidak bisa tidur, gara-gara apa?..” kalimat Bimo berhenti. Dengan santai dia meminum teh botol di genggaman tanganya, lirikan matanya masih menuju ke arah kami. Dan kami seperti anak kecil yang penasaran, dengan sabar kami menunggu kelanjutan cerita dari Bimo. Susana hening sesaat.

“semalem aku, .., jadi gini dengar ya, sini kalian mendekat aku kasih tau rahasia kenapa tadi malam aku tidak bisa tidur” intonasi suara Bimo berubah pelan, dan tangannya mengajak badan kami untuk merapat. Seolah memang ingin menceritakan rahasia besar. Aku dengan antsusias menurutinya, dan menggeser pantatku untuk mendekat. Susana kantin siang itu cukup rame. Kami berempat duduk di bangku panjang yang saling berhadapan dengan satu meja di tengah. Tidak hanya aku, Tiar, dan Arya juga sama, mereka berdua juga antusias ingin mendengar Bimo kembali bercerita.

“kalian tahu kan, siapa teman kita yang paling cantik di sekolah?” suara Bimo melanjutkan ceritanya, dengan melirik ke arah kami.
“Helen maksudnya” kata ku memotong kalimat Bimo
“ssttt jangan keras, keras.., “dengan cepat Bimo memberikan isyarat kepadaku untuk tidak berkata terlalu keras.
*****
Aku baru tahu ternyata benar cerita dari Bimo beberapa waktu yang lalu, aku juga sependapat dengan Bimo. Seperti pagi ini aku melihatnya di depan gerbang sekolah, bebarengan beberapa siswa yang juga datang menuju gerbang sekolah, mobil mewah itu menepi di dekat gerbang sekolah, warnanya bagus sekali, silver berlilauan terkena sinar matahari pagi. Pintu depan sebelah kiri mobil itu terbuka, ya tidak salah lagi itu Helen. Gadis pujaan di sekolah kami, beberapa bulan ini namanya sangat terkenal. Majalah model remaja kota kami yang membuatnya terkenal, ya sejak dia menang dalam kontes model remaja yang diselenggarakan majalah tersebut. Di sekolah juga tidak kalah terkenal, tidak salah pula kalau cerita Bimo, yang tidak bisa tidur itu. Cerita Bimo waktu itu, dia tidak bisa tidur hanya karena terpesona dan tidak sengaja melihat Helen, dalam sesi pemotrentan, kebetulan Ayah Bimo memang bekerja disana, dan waktu Bimo menjemput ayahnya dari tempat kerja, Bimo tidak sengaja melihat Helen. Cerita Bimo ya masih wajar-wajar saja sebenarnya, siapa pula yang tidak setuju dengan kecantikan Helen bak bidadari itu.

Tampilan Helen pagi ini semakin mempesona, model rambutnya terurai panjang sedikt bergelombang, kulitnya terlihat cerah, wajah manisnya lengkap sudah kecantikan Helen. Dan satu lagi yang menambah kecantikannya adalah kaca mata, ya kaca mata berwarna merah muda itu semakin menambah kecantikan Helen. 

“hoe”..Arya datang disampingku, sampil menepuk pundakku dari belakang, yang membuatku kaget. Wajahnya yang cengar-cengir sok manis itu, terlihat akrab menyapaku.

“ada apa, Yan, kau masih penasaran dengan Helen?” tanya Arya, yang ada disampingku, sambil terus berjalan menuju pintu masuk gerbang sekolah, dan sosok cantik itu perlahan juga beranjak melangkah pergi meninggalkan mobil yang mengantarkannya. Lihat jalannya saja sungguh menarik, tas punggung mungil, menambah elok saja cara berjalan Helen yang sedikit pengangkat pinggulnya, dan bergoyang ke kanan dan kiri. Sungguh aku tidak kuat melihatnya  cantik sekali.

“Hoe” suara Arya lagi-lagi mengagetkanku, dan spontan aku yang dari tadi melihat ke arah Helen, tidak memperhatikan apa yang ada di depanku. Dan “brakk..” suara kepala ku menarabrak pintu kaca saat melangkah masuk ke dalam lorong sekolah..
“hahahaha, Riyan-riyan, makanya kalau jalan itu, matanya jangan keman-mana, nah tu kan akhirnya kena juga kau, sampai pintu kau tabrak segala” Arya mengejeku dengan tertawa senang. Aku masih kesakitan mengusap kepala ku yang menabrak pintu tadi, untung tidak terlalu keras. Melirik ke arah Arya yang masih tertawa mengejeku.

Dan saat ingin membalas ejekan Arya tadi, tiba-tiba Helen berjalan pelan di samping Arya dan sedikit melirik ku, ya Helen gadis pujaan di sekolah kami itu meliriku, untuk sepersekian detik aku sangat senang, meskipun hanya lirikan matanya, hilang sudah rasa sakit dikepalaku, ku balas lirikan matanya dengan senyum, namun dia tidak bereaksi lagi, dan terus berjalan mendahului kami.

“hoe” gantian aku yang menepuk pundak Arya, mengangetkannya. Ternyata bukan aku saja yang tersihir kecantikan Helen, Arya juga, dia juga menghentikan tawa tadi saat sosok cantik itu berjalan disampingnya. Memperhatikannya terus, mata Arya mengikuti gerakan Helen yang mendahului kami. Waktu sesat berjalan lambat. Wangi parfum itu, hemm sungguh wangi sekali.

“hayo, ah ternyata kau juga tersihir dengan kecantikan Helen, bukan?” goda ku kepada Arya yang dari tadi mengejekku.

“ah, kau ini siapa pula yang tidak tersihir dengan bidadari manis itu, semua juga sudah tahu, hampir semua anak cowok se-sekolah juga tahu” jawab Arya ketus.
*****
Hari-hari berlalu, aku, Tiar, Arya, dan Bimo masih saja membicarakan Helen. Dan tidak ada yang lebih seru untuk tidak membicarakan Helen. Lagi-lagi Helen, helen dan helen. Di kantin semua cowok juga rame membicarakan, di kelas, lapangan, ruang guru, lab. Bahasa, ah semua tempat di sekolah ini rame membicarakan Helen dengan segala kelebihannya. Helena seperti artis saja. dia bagaikan ikon baru di sekolah, secara tidak langsung kepopuleran Helen juga membawa nama baik sekolah kami. 

“gimana Bim, kita boleh masuk kan ke studio pemotretan di kantor ayah mu kerja itu” Tiar menggoda Bimo. Aku tahu maksud Tiar apa, ya sejak terkena virus Helen, kami berempat selalu saja mencari celah untuk bisa lebih dekat dengan Helen. Tapi diantara kami berempat yang paling beruntung tetap Bimo, karena Bimo lebih sering ketemu Helen di luar sekolah. Helen seorang model majalah, ayah Bimo juga bekerja di majalah itu, jadi dengan banyak alasan Bimo punya banyak kesempatan datang ke tempat bapaknya kerja meskipun lebih sering menjemputnya jika, ayahnya malas bawa kendaraan. 

“hemmm, gini jadi kata ayah ku, besok ada sesi pemotretan di diluar alias outdoor, so jadi kata ayahku kita boleh lihat pemotretannya Helen”Bimo bersemangat menjelaskan, kepada kami. Saat kami main ke rumahnya. Terlihat wajah Tiar mulai bersemangat, senyum ambisi itu.

“wah, asyik dong, besok kita bisa lihat pemotretannya Helen live alisa langsung” Tiar bersemangat.

“ah kamu Yar, ngarep banget pengin lihat Helen” celetuk Arya yang dari tadi diam saja.
“gak usah jaim deh Ya, sebenernya kamu juga pengin lihatkan” balas Tiar kepada Arya.

“udah-udah gak usah saling iri-irian segala, semua benar” aku menengahi mereka, bila dibairin urusan sepela malah jadi pertengkaran mulut, tidak enak kan bertengkar di rumah Bimo.
*****
Ke-esokan harinya, kami ber-empat berangkat ke kantor majalah model itu, untuk meleihat pemotretan Helen. Kami semua sangat bersemangat, berdandan semaksimal mungkin, suapaya terlihat ganteng dan keren di depan Helen. Sebenarnya setiap hari kami juga bertemu Helen di sekolah, tapi kami tidak satu kelas, jadi ketemu paling ya sekedar menyapa, rasanya masih malu-malu gimana gitu untuk langsung bicara sama Helen. Helen juga anaknya sedikit pendiem jadi ya, kalau di sekolah kami hanya jadi pemuja rahasia sang bidadari.

Hari inilah kesempatan kami, untuk benar-benar lebih dekat dengan Helen. Lebih baik bersaing dengan temen deket sendiri. Tau kelemahan masing-masing. Kalau bersaing di sekolah kami jelas kalah modal. Hampir semua cowok di sekolah naksir sama Helen. Sok-sok baik gitu, pas Helen di kantin sok akrab dengan membelikan minumlah, menawarkan ini itu lah, Helen malah terlihat cuek saja. dasar cowok perayu.

Setelah sampai di tempat pemotretan, kami benar-benar kagum melaihat Helen, bergaya di depan kamera, ya meskipun kami hanya boleh melihat dari jauh, namun tidak terlalu jauh dari jarak pandang kami.  Helen bak artis di TV, bergaya, dibayang-bayangi lampu blizt kamera dan cahaya dari beberapa lampu pemotretan Helen semakin apik. ihh, kalau diperhatikan dengan cermat Helen sempurna sekali. Cantik.  Kami seperti mengintip bidadari, mirip cerita  jaka tarub, tapi bedanya kami mengintip bidadari yang di foto hehe. tidak terasa sudah 2 jam kami tempat pemotretan juga. Menyimak dengan setail seluruh rangkain pemotretan ini, mulai dari persiapan, hingga melihat Helen berganti kostum warna-warni yang menarik itu, sungguh menyenangkan. Dan tidak terasa pula acara pemotretan Helen sudah hampir selesai.

“gimana seru kan!, untung aku baik pada kalian dengan mengajak kalian ke tempat kerja ayahku” seru Bimo dengan sombong kepada kami. Kami tidak lantas menjawab dan hanya saling melirik.

“heh siapa pula yang mengajak kami kesini?” balas Tiar kepada Bimo tidak mau kalah.

“kau sendiri kan yang menawari kesempatan ini, melihat sang bidadari katamu, ya kami jelas mau lah, siapa juga yang tidak mau melihat bidadari secantik Helen” nada Tiar sangat keras sekali melawan.

Kami terus berjalan meninggalkan lokasi pemotretan, dan tidak sengaja pula dibelakang kami ternyata ada Helen yang berjalan pelan.
“Eh, ternyata kalian disini, sejak kapan, aku kok baru lihat kalian?” tiba-tiba Helen mendekat dan menyapa kami.

Haduh sudah tidak karuan rasanya, kami semua jadi salah tingkah ke-GR an. Kami hanya saling menatap dan tersenyum celingukkan, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Helen hanya tersenyum kecil melihat tingkah kami.

Beberapa saat kemudian, malah kami seakan akrab dengan Helen, dan sengaja pula Helen mengajak makan siang. Wah hari itu benar-benar spesial bagi kami. Helen yang selama ini ku kira sombong dan jaga jarak ternyata ramah dan menyenangkan.

“kalian kenapa bisa kesini?” tiba-tiba Helen membuka pembicaraan diantara kami. Kami hanya saling senyum, malu untuk menjawab.

“ohh, kalian diajak Bimo ya!, kalau Bimo memang sering ketemu, disini karena ayah Bimo kerja disini, iya kan Bim,” wajah Bimo cengar-cengir ke-GR an, sebelum kami menjawab Helen sudah lebih dulu tau.

Pertemuan kami dengan Helen ditempat pemotretan, justru menambabh kedekatan kami. Semenjak peristiwa itu, disekolahpun kami lebih dekat dengannya, bahkan kemanapun Helen pergi, kami selalu setia mengikutinya. Persahabatan kami, berjalan begitu saja, aku sendiri juga menikmatinya. Canda tawa Bimo, Tiar, dan Arya, membuat segalanya tidak terasa. Kedekatan kami dengan Helen, juga membawa dampak lain, yaitu ancaman cemburu dari para cowok-cowok pemuja rahasia Helen. Beruntunglah kami yang bisa dekat dengan Helen.

2 bulan kemudian, peristiwa yang mengejutkan, entah bagaimana kronologis dari peristiwa itu aku tidak terlalu detail. Waktu itu, kami tidak sempat berfikir, pengumuman pagi disekolah, membuat seluruh warga sekolah kami ricuh rame, semuanya membicarakannya. Teman-teman kami meneteskan air mata, guru-guru semua bersedih atas peristiwa pagi itu...

Bersambung...



Saturday, April 13, 2013

misteri bangku depan


Misteri bangku depan
Saat masuk ruang kelas, pasti ribut sendiri, dan saling berebut memilih tempat duduk. Urusan memilih tempat duduk adalah hal yang wajar, karena tanpa kita sadari pasti selalu memilih tempat duduk yang strategis untuk kenyamanan saat belajar.
Namun susana kelas ku saat ini begitu ekstrim masalah posisi tempat duduk. Tak seperti biasanya, hampir sebulan ini terutama anak perempuan di kelasku selalu berangkat pagi-pagi. Ini sangat kontras sekali jika melihat mereka datang terlalu pagi, bahkan di luar kebiasaan mereka sebelumnya. Yah memang sih tidak ada larangan untuk berangkat terlalu pagi. Namun yang membuat aneh kebiasaan itu adalah tujuan dan motif mereka untuk datang pagi adalah menghindari duduk di bangku deretan paling depan.
Aku sendiri juga masih belum tahu kenapa ada pergeseran presepsi yang sebelumnya mereka biasa-biasa saja dan tidak ada yang dipermasalahkan masalah bangku depan atau belakang. Diantara anak laki-laki yang sempat membicarakan masalah itu adalah aku dan Pras, sering sekali kami melihat fenomena itu semakin gak wajar tingakah laku mereka terlalu ekstrim.
                “lihat deh, Gas, coba deh kamu perhatikan tingkah laku anak perempuan yang semakin hari semakin ekstrim” wajah Pras begitu meyakinkan, urat didahi serta penekanan kalimatnya jelas sekali. Dan menunjuk anak-anak perempuan yang menyeret bangku yang ada didepan ke belakang.
                “ekstrim ?? maksudnya kebiasaan mereka yang sekarang gak mau duduk di bangku deretan paling depan?” aku menanggapi perkataan Pras tadi, dengan antusias.
                “ya iyalah Gas, aku jadi curiga kenapa mereka begitu ekstrim dan seolah histeris dan terlalu takut untuk duduk didepan,..” wajah serius Pras berubah menjadi wajah kwahatir dan nada bicara yang membuatku jadi merasa takut juga mendengarnya.
                “hemmm, kamu benar Pras... mencurigakan sekali, sepertinya ada yang disembunyikan dari anak perempuan terhadap anak laki-laki masalah bangku depan, di ruang kelas kita.” Balasku dengan nada yang datar namun sedikit curiga dan penasaran
Ruang kelas dengan fasilitas yang sederhana, papan tulis di depan adalah saksi bisu aktivitas yang terjadi di kelas ku. Bangku-bangku tak bernyawa yang kami duduki juga seolah menyimpan misteri sendiri. Ada beberapa coretan, dengan kata-kata jorok, ada tulisan nakal, tulisan aspirasi-asprasi yang tak tersampaikan hingga kata-kata cinta kelas emperan. Jendela kaca berlapis jeruji besi. Pintu tua yang hanya diam dan terbuka saat ada aktivitas pembelajaran di kelas. Tidak ada yang eneh memang, namun akhir-akhir ini suasana kelas kami terasa aneh.
 Hari ini saja suasana ruang kelas terlihat begitu aneh, tidak seperti biasanya, daretan bangku depan anak perempuan selalu kosong dan tidak ada yang mau duduk di bangku depan. Mereka seperti anak kecil yang takut melihat jarum suntik dan bersembunyi, menghindari duduk di deretan bangku paling depan. Bangku depan seperti di deskriminasi, andai saja bangku depan itu dapat bicara pasti mereka sedih di anak tirikan, tidak diperhatikan dan merasa dikucilkan.
“untuk teman-teman perempuan, silakan bangku depan di isi dulu, dan jangan diseret ke belakang soalnya posisi bengku seperti ini terlihat tidak nyaman” tiba-tiba suara Kamal, mengagetkan kami. Gaya bicara yang khas menyampaikan  pengumuman didepan kelas, dengan postur tubuh yang tinggi dan besar memang pantas sekali dijadikan ketua kelas.
“gak mau” hampir serentak anak perempuan menolak permintaan ketua kelas kami, mereka tetap menyeret bangku depan ke belakang, dan mengosongkan bangku depan, dengan begitu posisi bangku yang ada tepat di belakang bangku depan jadi berubah posisi menjadi bangku depan. Namun ruang kosong di depan semakin luas, sedangkan jatah ruang di belakang semakin penuh, hampir memadati jalan yang ada di depan pintu kelas. Sungguh ironis. Apa yang salah dengan bangku depan.
Aku dan beberapa anak laki-laki hanya bisa diam dan membiarkannya begitu saja. karena aku tahu, kami sudah sama-sama dewasa, tidak pantaslah jika kami memaksa, mereka juga punya hak mau duduk di manapun asal jangan duduk di tempat dosen. Kamal dengan wajah sedikit jengkel namun masih terlihat kalem dan santai dengan senyumannya yang pasrah, hanya menggelengkan kepala, dan kembali duduk ke tempat duduknya semula.
Keadaan ini semakin hari semakin menjadi, yang terlihat jelas adalah saat kami diajar oleh salah satu dosen yang menjengkelkan dan aneh. Wajah ketakutan, gugup, dan khawatir  bercampur menjadi satu. Anak perempuan yang semula terlihat cantik dan manis kini berubah wajah, menjadi gugup dan was-was, perubahan ini sangat jelas sekali. Seperti melihat hantu mereka benar-benar tampak gelisah. Diajar dosen yang tidak kami sukai, rasannya itu seperti masuk di ruang introgasi, tangan dan kaki di tali, mulut disekap, dan dipaksa mendengarkan kata-kata yang tidak penting sungguh membosankan. Aku juga jengkel dengan dosen yang satu ini.
Mitos yang beredar yang pernah aku dengar dari cerita-cerita ini adalah saat aku mencoba bertanya masalah ini pada Westa. Kebetulan aku dekat dengan Westa sudah lama, dan aku ingin tahu kenapa sekarang anak-anak perempuan selalu menghindari duduk di bangku paling depan.
Sepulang kuliah aku sempatkan untuk bicara dengan Westa. Butuh kesabaran bertemu dengan Westa, harus nunggu lama, di depan kelas, karena Westa seperti ibu-ibu arisan yang sedang ngerumpi bersama teman-temannya, ya temannya juga tapi aku tidak mau ikut pembicaraan mereka, mending dengerin musik dan nunggu Westa keluar.
“Gas, gak pulang?” tanya Prass yang asyik dengan memainkan layar sentuh yang  di genggamnya, dengan wajah yang masih terlihat suntuk setelah kuliah yang membosankan tadi.
“enggak Pras, masih nunggu Westa dulu” jawabku santai.,sambil terus melirik ke dalam kelas
“nunggu Westa? Ngapain nunggu Westa cerewet itu, “ lirik Prass dengan nada meninggi,
“kamu gak pengen cari tahu misteri bangku depan Prass” goda ku kepada Prass, dan memang sengaja aku menggoda dan membuat penasaran. Aku tahu Prass orang yang mudah aku pengaruhi.
“beneran Gas, serius?” ah kayaknya aku sudah gak tertarik lagi deh Gas,” dengan gaya yang sok, tidak butuh teman dia, mencoba gantian mempengaruhi ku,
“aku sudah tahu Gas, penyebab kenapa anak perempuan kelas kita gak suka duduk didepan?..” dengan tatapan yang meyakinan, ditambah senyum dari wajahnya dia terlihat seperti tukang hipnotis. Dan aku seperti korbannya. Aku masih terdiam dan tidak begitu saja mempercayainya.
Aku masih terdiam, seolah tak tertarik dengan apa yang dikatakan Prass. Melihat layar sentuh digengamanku, mengalihkan pandangan dan masih gelisah menunnggu Westa.
“hai, udah lama ya..,! dengan wajah polos yang sok akrab”Westa menghampiri kami yang sejak tadi seperti dua orang pelayan menunggu yang sang putri keluar dari istana.
Aku tidak langsung menjawab, melirik ke jam tangan yang ku pakai, dan menununjukanya pada Westa.
“uppzzt, maaf ya Gas, kalo udah bikin kamu nunggu” wajah lugu itu muncul lagi, ditambah senyum manis dari bibir  tipisnya. Prass, yang ada disampingku hanya menoleh dan diam.
“lho Prass juga diajak ta,”lirik Westa kepada Prass.
“yee.., emang gak boleh” balas Prass,
“lha tadi katanya Bagas, dia cuma ingin ngobrol dengan ku, kok jadi kamu juga ikut seh,” wajah Westa berubah lebih sinis menanggapi perkataan Prass tadi,
“udah-udah kalian ini, malah ribut sendiri” aku masuk ke dalam pembicaraan mereka, yang semula hanya diam. Aku takut akan terjadi adu argumen, antara Prass dengan Westa. Karena beberapa hari yang lalu mereka terlihat ada konflik. Sebab Prass, saat maju ke depan presentasi. Dan kebetulan Westa, adalah anak yang tidak puas begitu saja dengan apa yang dia dengar, lalu terjadilah adu argumen yang seru, dan Prass merasa tidak terima, untung suasana lebih tenang kembali saat dosen datang. dan lebih membela argumen dari Westa.
“ayo, mending kita ngobrol di dekat taman yang ada disamping gedung ini” aku mengajak mereka, untuk berdiskusi tentang misteri  bangku depan.
Setelah membeli beberapa camilan dan minuman, kami mencari tempat duduk yang nyaman, dibawah rindang pohon palem, dan disebelah kolam ikan. Taman ini memang di desain sebagi tempat beristirahat. Bangku panjang, berderat, berhadap-hadapan dengan meja kecil diantaranya. Banyak mahasiswa, berkumpul, mengerjakan tugas kelompok disini. Yang membuat taman, ini lebih nyaman lagi, dekat dengan koperasi kampus yang menyediakan berbagai kebutuhan mahasiswa. Akirnya pembicaraan kami mengenai misteri bangku depan dimulai.
“ada apa seh Gas, kamu tiba-tiba ngajak ngobrol” nada Westa meninggi, di ikuti gerakan tangannya yang mengambil cemilan. Dan melirik ke arahku,
“gini lho Wes, sebenarnya gak ada apa-apa, namun aku penasaran dengan tingkah laku teman-teman di kelas, terutama anak perempuan yang akhir-akhir ini terlihat ektrim tidak mau duduk di bangku depan.” Jelas ku kepada Westa, dengan nada pensaran.
“oh.., itu ya Gas, tak kira mau nanya soal apa..” Westa terlihat cengar-cengir dengan senyum nakalnya.
“iya Wes, aku dan Prass, tadi sempat membahas hal ini di kelas, tau sendiri kan, Kamal sang ketua kelas juga menyinggungnya tadi”
“alah kau ini terlalu alay tau Gas,” westa memotong kalimatku
“bener kan Gas, tanya sama Westa enggak dapat jawaban malah ngajak ribut” Prass tiba-tiba ikut dalam pembicaran yang tadi hanya diam, seolah cuek dengan bermain gadget layar sentuhnya yang terbaru.
Aku kembali melirik ke arah Prass, Westa terlihat diam, namun masih mengunyah camilan.
“gini lho Gas, sebenarnya itu gak ada apa-apa, dan gak perlu di permasalahkan, masalah bangku depan itu, masa bodo lah, dan suka-suka mereka kan mau duduk dimana,” penjelasan dari Westa terlihat serius.
Angin tiba-tiba berhembus, daun palem juga saling bergesekan, mendung mulai terlihat, tanda-tanda hujan mulai terlihat.
“bener kan Gas, kalo menurutku kenapa anak perempuan gak mau duduk di depan, selain kelas kita memang pas-pas an, jadi kalo duduk di depan itu pasti panas, apalagi kalo pagi dan siang cahaya matahari yang menembus jendela kaca akan langsung menembus dan menyilaukan mata bila duduk di depan” tambah Prass, yang sekarang satu pendapat dengan Westa. Dan mencoba untuk melirik Westa
“Yups, betul itu Gas, penjelasan dari Prass tadi memang masuk akal, aku setuju dengan argumen dari Prass,”
“wah kok tumben kamu Wes, sekarang membela Prass, bukankah kemarin kalian sempat adu otot gara-gara adu argumen saat presentasi. Aku menggoda mereka berdua.
Akhirnya aku malah jadi sasaran cubitan dari Westa dan tepukan tangan yang memukul lenganku. Prass hanya memakiku dengan kata-kata khas nya,
“ah kau Gas, sekarang sudah jelas kan masalah misteri bangku depan” Prass kembali bicara.
“aku setuju Prass dengan teori mu tadi, selain faktor *******, ternyata penjelasan dari mu tadi cukup logis, mengingat posisi anak perempuan kan selalu di sebelah barat, sedangkan anak laki-laki disebelah timur, jadi terlindungi dari cahaya matahari yang masuk ke kelas.” Tambah ku panjang lebar.
Westa malah cengar-cengir dan tertawa melihatku.
“iyalah, Gas gak mungkin juga hanya gara-gara masalah sepele ini seperti di film-film horor yang kalo duduk di bangku kosong langsung ke surupan” jelas Westa lagi sambil tertawa.
“iya-iya, tapi siapa yang tahu juga soal itu, siapa tahu juga, karena bangku depan itu di diskriminasi, dan tidak ditempati ada makhluk halus atau jin yang beralih menempatinya” aku sedikit mengarang cerita dan menakut-nakuti Westa.
“apa-apaan seh Gas, gaka lucu kali, hari gini masih terlalu percaya hal takhayul kayak gitu” terdengat kalimat Westa sedikit takut. Mendung juga sudah mulai gelap, dan suara petir juga sudah terdengar, tanda-tanda hujan. Dan tidak terasa sudah hampir 2 jam kami disini.
“wah Gas, mau hujan ni, ayo pulang saja” ajak Prass.
“iya Gas, ayo pulang sebelum kehujanan” Westa juga terlihat sudah ingin sekali cepat –pulang.
“iya deh ayo pulang, keburu hujan”. Kami bertiga pulang, ternyata gak ada yang aneh masalah bangku depan, memilih tempat duduk. Ya suka-suka kenapa harus dipermasalahkan, kalo dipandang sebagai hal aneh dan misteri memang terlalu alay, bukan karena faktor******** tapi juga bisa karena faktor lain. Sebelum menuju parkir kami melewati depan kelas kami, dan tak sengaja aku mengintip ruang kelas melalui jendela. Dan aku sempat kaget saat posisi bangku kelas kami acak-acakan seperti di obrak-abrik oleh seseorang. Padahal ruang kelas sepi tak ada orang. Dan setelah kami keluar tidak ada lagi yang memakai ruang kelas kami, karena hari ini, jadwal kami adalah jadwal terkahir.Jangan-jangan.............

Sekian
Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon maaf bila ada kesamaan nama, tempat dan suasana.


















Friday, April 5, 2013

cerita pantai pasir putih


cerita pantai Pasir Putih
Selalu saja setiap aku bertemu dengan Irhamna, dan kebetulan saat di tempat latihan kami memang sering bertemu entah itu sekedar cerita ataupun hanya ngobrol biasa. Seperti kami ini tiba-tiba arah obrolan kami berubah menjadi cerita tentang pengalaman ku saat pergi ke pantai Pasir Putih. Kuceritakan kepadanya, cerita tentang pantai-pantai, kegilaan ku dengan para geng gila yang sudah banyak kami alami, salah satu cerita tentang pantai yang paling seru yang kami alami adalah cerita tentang pasir putih di trenggalek.
◊◊◊◊◊
Aku masih ingat kejadian itu saat kami semester 4. Sebenarnya tak terlintas sama sekali untuk merencanakannya. Hari itu, kami ber-7 hanya mengadakan perkumpulan sepulang kuliah yang kebetulan mampir di kontrakannya habib. Salah seorang teman ku. Habib juga satu kontrakan dengan Singgih, aktor dari semua kegilaan ini. Waktu itu kami berkumpul makan-makan, kerena anak-anak cewek seperti, Inaya, Zia, Ema, dan Rukoyyah juga niat banget kalau disuruh masak.
“ini sebenarnya kita mau masak apa seh, maknyem” tanya Ema dengan wajah lugunya yang imut itu.
“ya, terserah Em, anak-anak minta dimasakin apa”?,,tanya Maknyem(alias rukoyyah) pada kami, dengan mata sedikit tegang.
“masak rujak saja maknyem, kita buat rujak buah, itu kan lebih seru” tiba-tiba Singgih membuka suasana yang dari tadi membingunggkan gak jelas mau masak apa,
Ok semua setuju dengan ide singgih untuk buat rujak buah  saja daripada harus makan yang berat. Sementara itu aku hanya membantu mengupas, buah timun, nanas yang dibeli Ina sama Zia dari pasar. Kami memang sering berkumpul seperti ini, sekedar untuk menghibur diri dari kesibukan tugas kuliah.
Acara makan-makan pun, tiba kami saling mengisi suasana untuk bercanda. Namun ada yang menganjal antara aku dan ema saat tema membahasan beralih kepada masalah pacar, karena antara aku dan ema ada sebuah dilema yang menyakitkan. Semua juga sudah tahu tentang itu, bahwa hubungan kami ini gak jelas, antara cinta dan persahabatan.
Aku tahu saat itu, Ema sudah punya pacar, sedangkan aku masih jomblo dan masih setia dengan perasaan yang aku yakini. Ema, ya sebenarnya aku sangat sayang dengan dia, entah dari mana perasaan itu datang, dari kedekatan kami yang terlalu sering atau memang aku bener-benr suka dengan dia. Entahlah biar waktu yang akan menjawab semuanya. Jalan kita masih panjang.
“ayok rek kita ngadain acara jalan-jalan lagi, sudah lama kan kita gak jalan-jalan” celetuk Zia yang bersemangat untuk mengajak kami jalan-jalan.
“jalan kemana Ze, bukanlah kita 2 bulan kemarin baru jalan-jalan ke Perigi dan mampir ke Blitar dan mengunjungi waduk karangkates” aku mencoba masuk dalam pembicaraan.
“iya seh bang, tapi kan gak ada salah juga kalau kita jalan-jalan lagi itung-itung buat rekreasi” jelas zia.
“iya rek ayo kita tentukan jadwal, supaya acara ini dapat terlaksana,” tambah Singgih yang semakin antusias, kalo Ina, Maknyem dan Habib hanya ngikut saja mereka.
Setelah berdiskusi lama, dan gak ada keputusan yang jelas, kami akhirnya pasrah, dan mungkin acara ini akan terlaksana bulan juni nanti setelah UAS. Kalau secara pribadi, aku juga tidak terlalu berminat untuk ikut, tapi saat aku mengatakan untuk tidak ikut, pasti mereka mengeluh dan mengamcam, bang udin harus ikut, apapun yang terjadi bang udin harus ikut. Mereka semua menganggap aku adalah sebagai ketua suku bagi kelompok ini, sudah mirip kayak suku pedalaman saja, jadi aku ini seperti di tua kan, yah meskipun secara umur yang paling tua diantara kami, adalah Maknyem dan Habib, aku masih urutan ke-3 jadi tidak terlalu tua lah. Namun karena sifat ku yang mungkin lebih dewasa jadi mereka se-olah menganggapku memang pantes dijadikan ketua, bahkan sejak semester 1 mereka tidak pernah memanggil nama asli ku, pasti diberi imbuhan Bang, aku sendiri juga tidak tahu apa arti tambahan Bang, sampai sekarang  nama panggilanku Bang Udin.
Lanjut cerita pantai, dengan antusias Irhamna mendengarkan ceritaku. Wajahnya seperti anak kecil yang minta dongeng sebelum tidur. Dia adalah adik yunior ku dalam latihan silat yang ada dikampus. Dan sudah lama kami saling kenal, dia lebih sering memanggilku dengan sebutan mas.
“ayo, mas lanjutin lagi ceritanya jadi semakin penasaran” goda irhamna kepadaku.
“iya, iya, tenang saja ir, pasti tak lanjutkan, tapi ya istirahat sebentar ya tak minum dulu” jawabku sambil mengambil sebotol minuman air mineral yang  selalu di sediakan untuk para senior.
◊◊◊◊◊
Lanjut kembali, akhirnya setelah rencana yang kami susun saat di kontrakannya habib, kami menjalani aktivitas seperti biasa. Dan tidak terjadi apa-apa, baru seminggu setelah itu, ada rencana gila yang datang dari Singgih katanya kalau nunggu sampai UAS, hanya akan menjani angan-angan yang tidak tercapai, bahkan terlalu lama, ditakutkan lagi kalau diantara kami ada keperluan mendadak dan ingin pulang karena liburan. Kami juga gak ingin seperti rencana Feri mantan ketua kelas kami yang mengadakan acara untuk mengisi liburan gak jadi karena terlalu banyak rencana. Dan kami gagalkan.
Setelah kami rapat dadakan, membahas acara ini, aku tetep sok cuek dan aku sebenarnya males banget bukan karena tidak punya uang, tapi lebih karena waktu yang mendadak.
“ayolah bang udin, kapan lagi kita seneng-seneng, mumpung masih semster 4, “ rengek Ema kepadaku. Bukan itu masalahnya em, tapi aku takut seperti peristiwa saat di jogja, yang akhirnya malah aku yang dicuekin sama Ema, udah berharap bisa dekat dengan mu malah aku, kamu cuekin. Suara hatiku pada Ema.
“iya deh em, jadi besok kita berangkat?” lagi-lagi aku harus mengalah dengan ema, walau bagaimanapun aku tetep gak bisa nyakitin Ema, apapun itu.. termasuk menolak permintaannya.
“ iya bang udin, kita berangkat besok sore, karena rencananya kita akan camping alias bermalam dipantai” jelas Singgih.
“Kalo kamu gimana bib”tanya ku kepada Habib
“ya aku terserah din, nurut saja, asal semua beres, ayo aku ikut-ikut saja” jawab Habib.
“ya maksud ku gini lho bib, jadi kita semua disini sama-sama fear dan deal”
Ok, dan akhirnya ide gila ini kami mulai. Rencana untuk bermalam di pantai sungguh ide gila nomer kesekian. Kami sudah pernah menjalankan ide gila dan pergi ke pantai-pantai beberapa bulan yang lalu saat ke jogja dan sempat mampir kerumahku.
Ide awal kami, karena kami berencana untuk bermalam jadi kami perlu membawa bahan makanan, serta alat untuk tidur alias karpet dan tenda. Segera hari itu juga kami, menjalankan tugas masing-masing, seperti aku, Habib, dan Singgih bertugas untuk mencari kendaraan alat-alat tidur dsb. Sedangkan anak-anak cewek lebih fokus kepada makanan, serahkan saja masalah masak-memasak kepada yang ahli. Hanya setengah hari kami melakukan persiapan. Kerena rencannya kami berangkat siang, dan sampai kepantai pasir putih sore menjelang malam, kami tahu dan sudah memikirkannya  karena kami sudah pernah kesana juga 2 bulan yang lalu.
Jam 1 siang, setelah menata segala persiapan dan keperluan, dan tak lupa aku sudah siapkan berbagai macam kumpulan lagu-lagu yang aku copy dalam flasdisk, dan aku juga tahu itu tugas khusus yang diberikan kepadaku. Mobil sudah kami ambil dari tempat rental, dan sudah siap untuk berangakat, dan rombongan dalam mobil bertambah satu yaitu Eng, salah satu temen kostnya Ema dan Zia, ya dia kami ajak karena sebagai penyuplai dana juga untuk meyewa mobil mengingat masih ada1 tempat duduk yang kosong, tadinya seh kami ingin mengajak feri, mantan ketua yang selalu kami gagalkan rencananya.
Lets go perjalanan menuju pantai pasir putih telah dimulai, dan perlahan mobil kami menuju ke selatan, meninggalkan kota Malang menuju Trenggalek, seperti perjalan ke perigi dulu kami juga lewat jalan yang sama. Aku masih ingat sekali peristiwa itu. Jalan siang itu sempat terhambat saat rombongan suporter Arema, memadati jalan, sore itu memang ada pertandingan laga kandang Arema di Stadion Kanjuruhan, jadi wajar jalan sedikit macet dan bahkan sempat menimbulkan antrian panjang saat lampu merah.
Didalam mobil, kami tidak diam, ya sesekali kami bercanda, terkadang aku kehabisan kata-kata saat teman-teman memojokkanku dengan menyinggung hubungan ku dengan ema.
“kalau bang udin gimana nih kisah cintanya” singung Maknyem. Dan aku dengar bisik-bisik Maknyem dengan Ina, Zia juga kiut nimbrung.., aku hanya diam dan senyum-senyum tok, melirik ke Ema yang wajahnya juga malu-malu gitu. Ah membosankan jika berbicara masalah cinta apalagi antara aku dan ema.
Habib duduk di depan juga membuat suasana semakin rame dengan banyol-anya yang tiba-tiba menimbulkan tawa diantara kami. Singgih juga tidak ketinggalan,meskipun dia nyetir di depan sesekali juga ikut dalam pembicaraan kami. Tak akui pertama kali tahu Singgih itu sudah mahir menyetir mobil aku tidak percaya namun, setelah tahu dan merasakan sendiri saat ke jogja, aku yakin dengan singgih kalo sudah mahir menyetir mobil, meskipun fisiknya kecil namun lincah juga dalam menyetir mobil. Sesekali ya masih takut saat dia, mencoba ngebut, lalu tiba-tiba menginjak rem mendadak, itu yang kadang-kadang terdengar jeritan dari bangku belakang, tempatnya anak-anak cewek.
Perjalanan menuju pasir putih cukup lama juga, dan alhamdulilah setelah kurang lebih 4 jam perjalanan kami sampai juga di wilayah pantai, aku juga masih ingat saat melewati bukit ini, sebelum masuk wilayah pantai, memang harus mendaki jalan menanjak melewati bukit baru setelah bukit ini, pantai akan terlihat. Dan jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya sebentar lagi magrib. Keindahan matahari terbenam sempat kami saksikan beberapa menit dari atas bukit menuju pantai.
Tepat memasuki kawasan pantai, magrib menyambut. Melewati pantai perigi dulu, lokasi pantai pasir putih tepat disebalah timur pantai perigi, jadi kami masih melakukan perjalanan kurang lebih 3 km dari pantai perigi. Melewati pemukiman penduduk dan hari semakin gelap. Susana didalam mobil juga ikut berubah. Rasa penasaran bercampur deg-deg an menghampiri kami. Gimana tidak? Setelah dihitung-hitung mobil kami hanya muter-muter gak jelas, sempat mengikuti petunjuk arah menuju pantai namun, sepeti dalam film-film mobil kami terkena pengaruh suasana sehingga Singgih sebagai sopir juga merasa aneh dan kami bertemu dengan jalan buntu, susana mulai mencekam, hanya satu yang aku takutkan. Aku takut saat ada gerombolan orang jahat yang siap menghadang kami, apalagi kami orang asing.
◊◊◊◊◊
“iya ta mas, terus  giman mas”? tanya Irhamna lagi memotong ceritaku. Seperti anak kecil Irhamna semakin penasaran dengan cerita selanjutnya.
“ok ir  tenang saja, aku kan senior mu dalam beladiri jadi sedikit banyak aku kan tahu teknik membela diri.” Jelas ku meyakinkan...
“iya-iya mas, percaya deh.., kakak pelatih alias mas udin” balas Irhamna dengan tawa kecilnya yang terlihat manis.
◊◊◊◊◊
Lanjut lagi dalam cerita pantai pasir putih. Setelah kami bingung dan merasa tersesat. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan mencari mushola. Dan turun dari mobil dan sholat jama’ah. Tak tahu bagaimana nasib kami selanjutnya, hanya bisa pasrah dan berdo’a semoga kami kembali ke jalan yang benar dan mendapatkan petunjuk sampai ke pantai pasir putih. Hari semakin malam, dan sudah menunjukkan jam 7.10 menit itu artinya kami hampir 1 jam tersesat tak tahu arah. Setelah selesai sholat, kami mencoba bertanya kepada penduduk sekitar. Daripada kami tersesat terlalu lama.
‘pak nyuwun sewu, jalan menuju ke pantai pasir putih kemana ya pak’?” Habib mencoba memberanikan diri.
“oh udah dekat mas, mas balik arah saja ada pertigaan belok kanan, nah mas sudah sampai ikut jalan saja.”
“oh iya pak matur suwun ngeh pak”
“iya mas, sama-sama”
Mobil kami melesat menuju petunjuk yang diarahkan dari bapak yang kami tanya tadi , ya semoga saja kami tidak disesatkan. Pelan-pelan kami mengikuti saran bapak tadi, dan benar pertigaan yang dimaksud bapak tadi, sudah kami lewati, namun ternyata kami memang salah arah, akibat papan petunjuknya juga salah, miring akibat terkena angin mungkin jadi kami ya juga salah belok. Semakin malam, susana di dalam mobil juga semakin penuh dengan wajah kekhawatiran.
“bang bener ta bang, arah pantai ke sini” tanya Ina dengan wajah cemas
“ya semoga in, ya namanya juga usaha, yang penting tetap positif thinking’ jawabku singkat
Benar-benar kami dalam kegalauan. Dan titik terang mulai tampak, melihat jejak pantai, rumah-rumah seperti warung-warung kecil, perahu-perahu kecil juga sudah tampak didepan mata, bunyi ombak yang berlomba-lomba datang bergemuruh juga sudah terdengar. Kami sampai di pasir putih.
Bukannya senang, tapi kami malah ragu jika bermalam disini, karena kondisinya yang sepi dan terkesan seram. Beberapa menit setelah aku berunding dengan Habib, dan Singgih, dan demi keselamatan bersama, kami mengurungkan niat untuk bermalam dipantai pasir putih, mending kami balik arah dan bermalam dipantai perigi yang memang lumayan rame dan terkesan lebih aman karena dekat dengan pelabuhan ikan.
Ok akhirnya kami sepakat untuk balik arah dan bermalam di perigi, dan kembali ke pasir putih esok pagi. Hah, lelah sudah setelah bolak-balik dan sempat tersesat kami malah balik arah. Ibarat garis finis sudah didepan mata malah kami tinggalkan untuk kembali mundur. Ah, sudahlah yang terpenting adalah keselamatan jiwa kami.
Beberapa menit kemudian, sudah hampir jam 8 malam. Kami akhirnya sampai ke pantai perigi. Mencari tempat parkir yang nyaman, supaya keamanan dan kenyaman kami terjaga. Ah..., rasanya plong setelah perjalan lama membosankan, bisa menghirup udara malam pantai perigi, menatap debur ombak yang masih kuat menghampiri dan menyapu bibir pantai. Lega rasanya, kami semua seperti terlepas dari belenggu ketidak pastian.
Satu-satu kami menurunkan barang-barang yang kami bawa tadi, memasang tikar, menurunkan air galon, makanan, dan sebagainya termasuk gitar. Gitar dari Gugus, yang kemarin malam aku ambil dengan Habib, di kontrakannya Gugus. Tak butuh waktu lama, kami langsung memulai ritual makan-makan. Pertama-tama karena rencana awal kami mau buat pesta bakar ikan, ya kami sudah persiapan juga untuk membawa arang, ikan sudah kami bersihkan dan tinggal untuk membakarnya saja, dari pada beli kami memang sengaja membawa semua makanan dari kontrakan, anak ceweklah yang mempersiapkan semua ini. sebelum memulai acara bakar ikan, kami bingung karena lupa bawa korek api, mau beli sudah banyak toko yang tutup yang ada hanya warung, terpaksa kami mencari korek api disana. Sayang ibu penjaga warung itu tidak menjual korek api.
Untung ada rombongan di sebelah kami yang baru datang ternyata juga mangadakan pesta bakar-bakar ikan, malah lebih besar lagi, karena mereka membuat api unggun. Nah kesempatan untuk berkomunikasi dan minta api, atau setidaknya kami boleh pinjem korek api, dan ternyata ramah juga rombongan disebelah kami, kami dipinjami korek api, sedikit demi sedikit api mulai menyala, dan arang yang sudah kami persiapkan mulai terbakar, acara-acara panggang ikan begitu seru, melihat suasana pantai yang cerah, dan di sekeliling juga rame, karena waktu itu malam minggu.
Susana semakin meriah saat aku dan Habib bergantian memanikan gitar, yah meskipun hanya lagu-lagu itu saja yang kami bisa, karena aku dan habib juga masih pemula dalam bidang per-gitaran. Yahh tak apalah dari pada sunyi sepi, untuk menghibur diri juga.
“bang, aku kok kepingin ya belajar nyanyi terus main gitar” tiba-tiba Ema mendekat dan mengajakku untuk bicara., tatapan matanya memelas, indah sekali, ada cahaya api, yang memantul ditambah remang-remang suasana malam pantai, Ema terlihat semakin cantik.
“hemmm apa em, kamu pengin belajar main gitar,? “tanya ku seperti orang yang antusias, ini salah satu teknik ketika ada orang yang tertarik dan meminta sesuatu, bersikaplah dengan antusias seolah rela untuk membantunya dan menghargai keinginannya.
“iya bang, bisa kan kamu ajarin aku main gitar’
Hemm aku masih tidak bisa menjawab, ini sebenarnya kesemapatan, kapan lagi, bisa ngajarin Ema main gitar dengan suasana pantai seperti ini. Seperti seorang yang masih tidak percaya aku mayakinkan diriku sendiri, semoga ini bukan mimpi.
“bang udin, bisa kan” sekali lagi Ema mengatakan nya padaku
“iya deh em, apa seh yang enggak buat ema” goda ku sambil tersenyum kepadanya
Ema hanya membalasnya dengan cubitan di lengan ku.
Dan kami pun seperti orang pacaran, ya aku ajari ema main gitar, mulai dari kunci-kunci dasar, meskipun aku sendiri juga kurang mahir hanya beberapa lagu saja yang bisa kumainkan.
Tak terasa suasana pantai semakin berubah, entah karena apa. Semula kami memang berencana untuk bermalam disini, namun setelah melihat-lihat situasi yang ada kami jadi was-was terlebih rombongan kami lebih banyak cewek dari pada cowoknya. Selain itu, rombongan yang ada disamping kami telah pergi, sudah jam 22.15 itu artinya memang sudah jam malam.
“din gimana ini din, kita gak mungkin nginap disini” Habib mencoba mengajakku bicara.
“memang kenapa bib?” balas ku
“din, aku khawatir kita kenapa-kenapa, dari tadi aku melihat kumpulan anak-anak yang lalu lalang pakai sepeda motor itu mengawasi kita, dan lihat” Habib menujuk ke belakang mobil kami, ada sekumpulan anak muda yang kelihatannya sedang mabuk-mabukan.
“lihat kan din, cowoknya disini cuma aku, kamu dan singgih, dan lihat ceweknya, gak imbang din, kalo kita cowok semua sih gak papa, tapi yang aku takutkan cewek din” jelas Habib dengan ekpresi yang sedikit tegang.
“bener bib, meskipun aku juga bisa beladiri, tapi aku juga sadar 1 lawan banyak tetep kalah dan posisi kita adalah orang asing di tempat ini, kita kalah segalanya bib”
Setelah kami berdiskusi, kami buru-buru meninggalkan pantai, sebelum semua terlambat dan terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan terutama tindak kriminal yang lebih berbahaya. Dengan terpaksa rencana kami bermalam di pantai gagal. Sedikit kecewa sih, namun tak apalah demi keselamatan kami juga.
Ditengah kegalauan mau nginep kemana, ada solusi yang tiba-tiba muncul yaitu nginep di masjid, nah itu solusi ekonomis dan lebih aman dari pada harus dipantai dan berhadapan dengan kumpulan para pemabuk. Aku masih ingat dimana tempat masjid yang sekiranya aman. Kami langsung menuju kesana, dan tidak sesuai dengan apa yang ku perkirakan, ternyata masjid yang kami tuju, gerbangnya ditutup. Gagal sudah bermimpi mencari tempat yang aman. Tak henti-hentinya mobil kami modar-mandir gak jelas mencari tempat yang aman untuk bermalam, ada seh hotel dan tempat penginapan, tapi apa daya keuangan kami tidak mencukupi untuk menginap. Dan kami frustasi., kami akhirnya memilih untuk memberhentikan mobil kami, karena kami takut jika mondar-mandir gak jelas kayak gini akan menimbulkan kecurigaan masyarakat sekitar. Mobil kami parkir di depan kios toko yang sudah tutup. Jalan juga sudah mulai sepi. Rasa takut menghantui kami, untuk bebrapa saat memang terlihat aman, tidur di mobil, tapi dalam kondisi pintu dan kaca mobil ditutup mesin dimatikan, suasana dalam mobil seperti di dalam oven pansnya bukan main. Bahkan bisa jadi kalau terus seperti ini kami mati, gara-gara kekurangan oksigen.
“gimana ini bang udin ayo, kita cari tempat yang lebih aman dan nyaman” tiba-tiba Ina dengan nada khawatirnya bicara.
“iya in, kau tahu kita gak mungkin didalam mobil terus, terlalu sedikit oksigen yang kita hirup, dan bisa-biasa kita mati hanya gara-gara kekuranagn oksigen”
“ayok bang udin cari cara apa gitu” tegas Zia
“masak kita mau nginep di hotel, ada uang lebih ta?”
“gak ada, uang kita pas, untuk besok dan beli BBM untuk balik besok” jawab Singgih
Kami semua hampir frustasi apalagi, saat rombongan geng anak muda melewati mobil kami, kami semua bersembunyi dan berharap mereka tidak mengenali mobil kami. Sesaat kami semua sudah pasrah.
Ditengah kegalaun ini, aku menemukan ide.
“gimana kalo kita nginap di polsek, se ingatku, sebelum pasar yang kita lewati pertama kali masuk kawasan pantai aku lihat ada kantor polisi kecamatan alis polsek watulimo.” Saranku kepada teman-teman, memang sih awalnya mereka gak setuju karena terlalu takut dan gak mau ribet berurusan dengan polisi. Namun karena demi keselamatan dan ini mendesak kami akhirnya setuju. Bersembunyi ditempat berbahaya terkadang justru lebih aman.
◊◊◊◊◊
Kulihat wajah Irhamna semakin antusias, mendengar cerita ku. “iya ta mas, terus gimana, berarti sampean dan teman-teman sampean masuk ke kantor polisi dan tidur disana?”
“ya itu terpaksa Ir, pilihan itu adalah pilihan paling aman saat itu, demi keselamatan bersama” jelasku.
“hemmm, terus mas,..lanjutin mas ceritanya, kok jadi tambah seru ya?’ wajah irhamna semakin penasaran, dan tidak sabar dengan kelanjutan ceritanya.
◊◊◊◊◊
Beberapa saat kemudian, mobil kami berhenti di depan polsek Watulimo Trenggalek. Sebelum turun kami sempat takut dan saling tunjuk siapa yang mau laporan ke polisi.
“ayo din, kamu wes yang kesana”tunjuk Habib
“lho kok aku seh, gak berani aku kalo sendiri”
“ayo lah din, katanya kamu pendekar silat” rengek Habib, ini yang paling ku benci, memuji seseorang lalu secara tidak langsung menyruhnya, strategi menajemn kepemimpinan yang baik. Namun tetap tidak suka dengan cara halus yang memelas itu. Menyanjung dulu, diabawa keatas lalu diturunkan.
Sete;ah berunding dan saling tunjuk, akhirnya aku dan habib lah yang turun dari mobil dan laporan kepada petugas  yang ada dikantor polisi. Sebenarnya aku takut kenapa-kenapa karena takut ditanya ini itu yang tidak bisa kami jawab alias ketahuan bohong. Sebelum mendekat aku dan habib mencari alasan suapay kami diperbolehkan masuk dan tidur di kantor polisi.
“gimana bib, ayo masuk laporan”
“jangan dulu din, kita nyari alasan yang logis supaya diizinkan masuk”
“maksudnya” aku mencoba menegaskan
“gini lho din, kita kan satu mobil ber-8, ceweknya 5, cowoknya 3, dan kalo kita ditanya alasan kita adalah main ke pantai pasti mereka curiga dikira kita anak nakal” jelas habib.
“oh.., iya bib aku sudah tahu maksudmu”..
Aku dan habib, kami berdua pelan-pelan memasuki gerbang halaman polsek dan laporan di petugas yang ada di depan.
“ada apa dik” salah seorang penjaga bertanya kepada kami
“gini pak, kami satu rombongan dari ponorogo mampir ke pantai lalu  kemalaman di pantai dan mau menumpang untuk istirahat,” jelas Habib
“oh berapa orang yang ada di mobil,”?
“8 orang pak termasuk kami “
“iya dik silahkan, mobilnya diparkir dihalaman, lalu laporan lagi”
Setelah itu aku menyuruh singgih untuk parkir mobil di halaman kantor polsek. Kami satu persatu turun dan saat laporan polisi itu curiga.
“lho dik kok banyak perempuannya?’ dengan wajah mencurigai dan terheran bertanya ke arah Habib.
“iya pak, kami ini mahasiswa habis menegok teman kami yang ada di ponorogo”? dengan wajah sok imut dan senyum manis Habib mencoba melakukan strateginya lagi untuk mempengaruhi polisi.
Akhirnya polisi itu percaya juga kepada kami,
“silakan dik, mumpung kapolseknya masih tidur, jadi silakan untuk tidur disini”, petugas taadi menunujukan ruangan yang bolah kami jadikan tempat istirahat.  kami disuruh tidur di ruang tunggu dan introgasi.
Prioritas tidur selain cewek adalah Singgih karena dia sopir jadi yang tidak tidur malam itu hanya aku dan Habib. Dengan terpaksa dan untuk menghindari kecurigaan aku dan Habib mencoba berkomunikasi dengan para petugas atau polisi malam yang ada di polsek Watulimo. Malam itu aku dan habib, nonton tv, kebetulan ada sepak bola, dan menyuguhkan kopi kepada petugas yang kebetulan ada sisa kopi yang kami buat di pantai tadi.
“sebenarnya adek ini dari mana mau kemana”? salah  satu polisi bertanya kepada kami.
“begini Pak, sebenarnya kami semua adalah mahasiswa, kebetulan tadi kami dari Ponorogo lalu mampir ke sini, dan kemalaman dipantai.” Jawabku dengan santai.
“oh.., berarti kalian ini mahasiswa”
“iya pak”
“mahasiswa dari malang? Kuliah di mana?”
“kami kuliah di UIN Malang Pak” Habib gantian menjawab.
“terus kalian tadi dari Ponorogo, Ponorogonya mana”? kebetulan saya juga asli orang Ponorogo.” Balas pak polisi.
Seketika itu aku dan Habib mulai kebingungan harus menjawab apa, ada jeda beberapa detik, kupergunakan untuk berbisik-bisik dengan habib, “Bib kalo kita salah ngomong kita akan ketahuan bohong” , “iya Din aku tahu, ayo carilah alasan yang tepat , kamu kan anak Magetan, dan Ponorogo itu dekat kan dengan Magetan, ayolah din kamu pasti bisa cari alasan yang logis agar pak polisi itu, tidak curiga.
“iya, Pak kami tadi dari ponorogo, sebelah barat alun-alun ada pondok, kami tadi menjenguk teman kami main kerumahnya yang ada di sebelah pondok pesantren” jawabku pelan dan terlihat ragu-ragu, dan berharap semoga pak polisi percaya dengan alasan kami.
Dan dengan argumen-argumen yang terus kami mantapkan, seperti diskusi dalam kelas, kami akhirnya berhasil meyakinkan pak polisi. Tak buth waktu lama, kami akhhirnya berinteraksi dengan para polisi di kantor tersebut berkenalan dan saling bertanya dan menjawab. Tak terasa juga waktu sudah menunjukan jam 1 malam.
Salah seorang polisi mengajak pak Manto, polisi yang dari tadi ngobrol dengan kami untuk berpatroli, kami pun diajak untuk ikut kalau mau. Dan Habib meng-iya kan ajakan tersebut, kami berdua diajak berpatroli malam itu.
Ternyata kami baru tahu kalau setiap malam para polisi disini berpatroli karena ini memang daerah pesisir dan berbatasan dengan laut lepas, maka wilayah pantai harus terus dijaga selama 24 jam. Kebetulan juga para polisi yang baik ini sedang jaga malam dan ada tugas patroli. Kami berdua dengan 2 orang polisi, naik mobil jep khas patroli, berkeliling pantai perigi, kami juga sempat diajak ngopi bareng dan juga keliling ke pantai pasir putih. Banyak sekali pengetahuan yang kami dapatkan, dan benar firasatku aktivitas malam, anak-anak muda pantai adalah mabuk-mabukan, kami juga sempat melihat adegan mesum yang tertangkap oleh cahaya dari mobil patroli. Kami juga diajak berkeliling dermaga pelabuhan ikan, melihat para nelayan mancari ikan di laut dan memang para nelayan memanfaat angin laut yang terjadi malam hari untuk mendorong kapal mereka ketengah laut dan mencari ikan. Pemandangan dan pengalaman yang luar biasa dan tak akan pernah aku lupakan seumur hidup.
Tak terasa pula, waktu menjelang pagi. Setelah ikut berpatroli dengan pak polisi. Kami kembali ke kantor polsek Watulimo. Aku dan habib menggunakan waktu beberapa jam dan tempo menjelang subuh, manfaatkan untuk memjamkan mata sebentar, lumayan lah, daripada tidak tidur sama sekali. Sebelum tidur aku lihat posisi tidur teman-teman yang tidur di bangku dalam ruangan, semua wajahnya terlihat lelah dan lelap sekali. Aku dan habib bingung mencari tempat tidur yang enak. Dari mulai tidur diluar, sampai tidur dilantai, ah semua hanya sia-sia, kami berdua gak bisa tidur. Baru beberapa saat ada bangku kosong di dalam ruangan, aku masuk dan membiarkan Habib tidur sendiri di luar. Kulihat wajah Ema, yang masih terlihat manis meskipun dalam keadaan capek dan lelah. Selamat malam Em.
Entah ada satu jam tidak aku tidur, adzan subuh mulai berkumandang, itu artinya kami harus cepat-cepat bangun, sholat dan berpamitan dengan para polisi disini. Satu persatu kami mencuci muka, lalu sholat subuh berjamaah dan melanjutkan perjalanan. Terima kasih pak polisi, entah apa yang harus kami balas, dan kami juga tidak tahu bagaiman nasib kami jika tidak tidur di polsek watulimo waktu itu.
◊◊◊◊◊
“Wah seru banget mas cerita, bener-bener berkesan ya mas sampai nginep di polsek lalu di ajak berpatroli” irhamna memotong ceritaku
“iyalah ir, selain seru ya deg-deg’an coba bayangkan kalau kami tidak nginep di kantor polsek, wah gak tau wes.., mungkin sudah jadi korban para pemabuk dipantai”
“terus mas, setelah itu pulang? Balik ke malang?”
“justru ini dia ir, cerita intinya, kegilaan kami di pantai pasir putih”
◊◊◊◊◊
Setelah kami berpamitan dengan para polisi yang baik itu, kami melanjutkan perjalanan ke pasir putih, sayangkan sudah sampai sini, tidak jadi mampir ke pasir putih. Lagi pula sewa mobil kami masih sampai nanti sore. Lest’go. Selamat pagi pasir pautih, keindahan panorama alam pantai menyambut kami, dan singgih sudah hapal jalan yang kami lalui apalagi ini sudah terang.
Mobil kami masuk area pantai pasir putih dan harus membayar retribusi. Entah berapa aku juga lupa, kalau tidak salah per-orang 8ribuan. Plus mobil 5 ribu. Cari tempat parkir yang aman dan nyaman. Wah sejauh mata memandang terhampar cantik pemandangan pantai yang indah, dipinggir pantai juga banyak pohon kelapa, di sisi pantai dekelilingi dengan bukit yang mengitari bibir pantai, cantik sekali ditambah matahari pagi. Serta ada jembatan yang memang khusus disediakan untuk meloncat dan berenang.
Kami semua seperti puas sekali, dan membasahkan diri ke pantai. Bermain ombak, menikmati air laut yang menyegarkan. Rasanya puas sekali, jika di inget peristiwa yang semalam inilah gantinya. Setelah merasakan ketegangan semalam, saatnya bersantai. Ala anak pantai.
“ayo bang udin, ayo agak ketengah, ombaknya tenag bang udin, asyik untuk renang” ajak maknyem
“ayo cepetan bang udin kesini lho,” teriak Ina. Semua teman-teman sudah menjeburkan diri ke pantai, kulihat Maknyem dan Ina sangat menikmati, zia dan Eng juga,. Habib Singgih semua bermain ombak, hanya Ema sendiri yang semula takut untuk menjatuhkan diri ke air laut.
“ayo em,” aku mencoba mengajak ema berjalan mengikuti teman yang lain yang sudah berlarian berkejar-kejaran dengan ombak.
“aku takut bang udin” jawab ema dengan wajah memelas
“takut apa em, tenang saja ombaknya enggak besar kok”
“iya, bang aku tahu.., tapi,,,aku lagi dapet bang”..jelas Ema
“ohhh...,: hanya itu yang keluar dari mulutku.
Namun tetap aku menemani Ema berjalan menuju kearah mereka. Hemm anda saja ema pacarku udah tak gandeng pasti tangannya.
Kesenangan kami sungguh tak bisa diungkapkan. Bermain dengan ombak, berenang. Berkejar-kejaran. Sungguh kesenangan yang tak terlupakan. Ada saat yang memalukan saat semua berani menerjunkan diri dari jembatan yang memang disediakan untuk meloncat dan berenang hanya aku seorang yang tidak berani. Sungguh memalukaan. Semua mata melihatku.
“he lihat bang udin tidak berani loncat” teriak Singgih kepada semua.
Waduh jujur saja. aku memang phobia kalau sama ketinggian. Trauma masa kecil saat jatuh dari pohon jambu, memang gak bisa kulupakan.
Lanjut cerita selanjutnya. Setelah puas bermain dengan ombak, akhirnya kami istirahat sebentar. Aku dan Ema, sempat bermain gitar lagi dan kuajari Ema memainkan sebuah lagu, kalo ingat peristiwa itu sangat romantis sayang, semua hanya persaan yang ah mungkin perasaan biasa antara sahabat. Dan sempat juga kami ditawari para calo perahu untuk diajak naik perahu, dan di iming-imingi dengan harga murah dan bisa berkeliling sampai ke pulau yang ada di sebelah ujung pantai ini. Dengan berunding sebentar kami akhrinya meng-iya kan tawaran tadi, itung-itung mumpung lagi ada disini dan kapan lagi. Itulah yang mendasari keputusan kami, meskipun harus merogoh uang lebih untuk naik perahu.
Dan benar saja, kami semua naik perahu menyenangkan bisa naik perahu. Meskipun sempat takut juga. Baru kali ini aku naik perahu di laut lepas. Kami semua gembira, melupakan semua masalah. Bebas. Namun ada momen yang menjengkelkan ketika Ema dan Zia bergantian meneriakan nama pacar mereka masing-masing huhft sungguh membosankan. Rasanya ingin kuceburkan diri ini kelaut saja.
Pemandangan indah laut sungguh memukau mata, air laut yang begitu jernih, sesekali perahu berhanti dan kami bisa melihat ikan-ikan laut dari atas perahu. Cantik sekali, karang bawah lautnya juga indah, lengkap sudah, kami seperti liburan beneran. Yang lebih menarik lagi adalah penawaran dari tukang perahu yang menawarkan kami untuk mendekat ke kapal tanker batubara yang kebetulan berlabuh di pantai pasir putih. Penawaran itu tak kami sia-sia kan. Lestgo lagi, perahu kami mulai sedikit ke tengah dan mendekati kapal raksasa itu.
Perlahan perahu mendekat, dan ternyata juga disambut baik dari awak kapal. Wah kami waktu itu benar-benar seperti orang kaya, anak orang kaya yang lagi liburan, benar-benar seru. Dan setelah mendekat kami disuruh naik satu persatu ke atas kapal raksasa itu. Kedatangan kami disambut hangat oleh beberapa awak kapal. Seperti wisatawab beneram, dan memang aku juga merasa takjub juga. Melihat kapal besar, dengan gagah, dan sekarang aku naik diatasnya.
Setelah berkenalan, kami dibimbing oleh satu kru kapal yang memang memandu kami untuk berkeliling melihat kapal. Dan kami juga banyak tahu mengenai kapal itu, ternyta kapal raksasa itu adalah kapal batu bara dari kalimantan yang akan menuju Pacitan, dan kebetulan beristirahat di pantai pasir putih. Tak lupa pula kami bernarsis ria didepan kamera, berfoto-foto dan juga kesempatan langka. Lagi-lagi kapan lagi kita bersenang-senang seperti ini.
Hampir setengah jam kami berada di kapal raksasa tadi, dan kemudian berpamitan. Tak lupa pula berfoto-foto dengan para kru kapal. Lanjut kembali, balik ke pantai lagi. Hah puas banget. Setelah itu acara kami adalah makan-makan, capek memang dan cukup menguras tenaga, dari jam 5 pagi sampai 9. Cukup lama juga. Dan kami pun istirahat makan-makan. Yang tak terlupakan dari acara makan-makan adalah sambel. Ya sambel bikinan Ina, benar-benar super hot alias pedes sekali. Mungkin jika dianalogikan ada levelnya mungkin sambel Ina adalah sambel level 13 belas yang pedasnya menggila bahkan sampai membuat telinga rasanya panas.
Kecerian dipantai, telah usai dan kami berencana untuk segera bersiap balik juga, mengingat waktu tempuh serta waktu sewa mobil kai juga sudah terbatas. Tak beberapa lama kemudian, setelag kami mandi membilas badan dengan air tawar, dan berganti baju. Kami meninggalkan pantai pasir putih. Selamat tinggal pantai pasir putih, dan pengalaman di pantai pasir putih tak akan pernah aku lupakan.
◊◊◊◊◊
“terus mas, sudah selesai ceritanya” Irhamna kembali melirik ke arahku dengan tatapan mata yang aneh.
Aku diam tak menjawab.
“mas boleh nanya sesuatu gak?” sepertinya Irhamna mulai menggodaku dengan gayanya yang centil itu
“nanaya apa kok pakai izin segala”
“hemmm terus hubungan mas Udin dengan Mbak Ema, sekarang gimana?”
Pertanyaan yang mengejutkan. Pertnyaan yang membingungkan juga untuk ku jawab, apa aku harus jujur dengan Irhamna. Ah terlalu bodoh jika diungkapkan sekarang. Yang jelas rasa sayang pada Ema, masih ada sampai sekarang, meskipun aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaan Ema yang sesungguhnya kepadaku. Hubungan kami rumit, terkadang kami juga saling cemburu, tapi apa iya Ema suka padaku. Aku masih ingat bagaimana jawaban Ema saat aku menembak dia dan mengungkapkan cinta padanya. Dia hanya bilang kamu itu terlalu baik buat aku. Itulah jawaban Ema. Terus apa sekarang aku harus lebih jahat, supaya aku bisa mendapatkan mu, ah entalah. Hubungan ku dengan Ema, memang misteri, seperti misteri yang tersimpan di hati masing-masing. Biarlah kenangan indah itu akan selalu ada.
“mas? Kok bengong” suara Irhamna mengagetkanku.
“mas udin masih cinta ya sama Mbak Ema” goda irhamna lagi. Dengan wajah yang mulai menjengkelkan, seperti anak kecil yang mengejek
“ah entahlah Ir, hanya kami yang tahu, cerita kami masih panjang, tapi suatu waktu aku yakin kita akan berakhir bahagia”
“cie-cie, mas udin rek”..suara Irhamna keras, sekali diikuti dengan langakah kaki meninggalkan, dan mengejekku
“huh dasar....,” tiba-tiba Irhamna berlari dan ku kejar seperti adik ku.
Sekian cerita pantai pasir putih.
 

Blogger news

Blogroll

About