Ellinee..
Pikiranku masih
saja tidak tenang, entah kenapa bisa seperti ini. Aktivitasku berjalan seperti
biasanya, tak ada yang spesial, sama sekali. Terlalu “alay” aku menyebutnya
jika pertemuan tadi pagi, itu sebagai hal yang spesial. Perjalanan menuju kampus,
melewati jalan yang setiap hari kulewati. Sama seperti hari-hari kemarin,
kemarinya lagi bahkan tetap sama seperti setahun yang lalu saat aku baru
mengenal daerah ini. Melawati gang sempit lorong rumah penuh kaca, dan setiap
kali aku lewat gang ini adalah kebiasaan untuk berkaca, sedikit bergaya bak
pangeran yang akan menjemput sang puteri. Hiburan melewati lorong di gang ini,
ada kicauan burung kenari di pojok gang pemilik rumah ini, dan setiap
melewatinya seolah burung kenari itu seperti mengucapkan selamat pagi padaku.
Cantik sekali secantik warna bulu yang menghiasinya.
Dan
tak terasa, ada 4 belokan udah aku lewati, namun sejatinya setiap kita berjalan
hanya ada 2 belokan meskipun kita menghitungnya lebih dari 2, tahu engak
kenapa?karena sejatinya belokan jalan itu hanya ada 2 yaitu belok kanan dan
belok kiri. Aspal jalan ini masih terlihat basah oleh air hujan malam tadi, ya
memang dua hari terakhir, setiap sore hujan deras selali mengguyur wilayah kota
ini. Bahkan semalem hujan deras disertai angin dan juga petir. Sekitar tepi
jalan masih terlihat sampah berserakan bekas kena air hujan. Didepan ada
belokan terakhir sebelum aku sampai kejalan raya depan kampus. Dari ujung aku
berjalan santai dan sedikit kuperhatikan sepertinya aku kenal dengan sosok
perempuan yang berjalan cepat-cepat di depan ku.
Dugaanku
tidak salah, ya tidak salah lagi itu Eline, salah satu temen yang kebetulan
sekelas denganku. Dan pertemuan pagi itu, ah seperti seolah bertemu dengan
orang yang spesial, msih terlalu pagi untuk mengatakan ini sebuah kesempatan,
jangan terlalu GR alias gede rasa ini mungkin hanya sebuah kebetulan, lagian
kostnya Eline ka memang di gang terkahir ini.
Dan sebelum kami berdua
menyebrang jalan aku sempat memperhatikan sekilas wajahnya yang sok cuek tapi
tetep terlihat manis dengan dandanan yang simpel elegan. Kami menyebrang
sendiri-sendiri terlalu “wow” kalo sampai kami bergandengan tangan iya kan??..
Setelah
sampai sebrang jalan, lalu kau coba menyapa Eline. Hemm khas bau parfum yang
menyengat hidung langsung menelusup indra penciumannku, merangsang otakku dan
memberi pesan bahwa inilah aroma parfum seorang cewek yang “wow” amazing, apa
Eline mandinya hanya pakai parfum gak pakai air haha.
“pagi
Eline, tumben kok sendiri, kok enggak bareng sama Aida??” aku mencoba memecah
suasana untuk bertanya pada Eline.
“enggak
kok, aku buru-buru jadi gak bisa bareng Aida, aku mau Presentasi” jawabnya
singkat
“hemm
gitu ya, tak kira kalo lagi ada masalah hehe” canda ku kepadanya, namun eline
seolah tak menganggap aku. Huh dasar cewek sombong sok kecantikan loe, padahal
biasa aja cuma menang bodi.
Sepanjang
jalan, meskipun kami bersama eline sengaja jalan sedikt cepat di depan ku. Ok,
jalan sana sendiri aku juga gak mau kalo nanti ada gosip yang enggak-enggak pas
ketemu temen-temen, gumamku dalam hati.
Setelah sampai
kelas ya biasa aja, huh saat dia maju presentasi, aku cuekin aja, lagian aku
juga males bertanya. Ngapain, untuk mata kuliah ini kan yang penting masuk dan
sudah ambil jatah bertanya dan menjawab so..tenang aja. Berdiam diri terkadang
lebih baik dari pada sok cari perhatian. Kayak Fadil, yang lagaknya sok
intelek, padahal yang di omongkan hanya mbulet tok, malah bikin bingung.
Dalam suasan
seperti ini, menengok kebelakang mungkin lebih baik sedikit mencuri pandang
kepada Rina, gadis imut dikelas ini, meskipun dulu aku sempat dekat dengan Rina
namun sekarang udah enggak lagi. Ya mending aku dulu pernah dekat dengan rina
meskipun tak dapat memilikinya. Eh kembali ke topik sekarang adalah Eline. Gadis
yang baru 3 bulan ini aku mulai dekat dengannya. Pernah sih bebrapa waktu yang
lau kami kencan pdkt pertama, ya gitu dia terlihat menarik.
♪♪♪♪♪
2 bulan yang
lalu. 2 bulan yang lalu kondisi kelas kami berubah. Kebijakan program yang gak
jelas membuat situasi semakin membuat semua penuh tanda tanya. Bidang akademik
fakultas juga bingung gara-gara ulah sekretaris jurusan yang mencoba trobosan
baru yaitu membuat prodi bidang peminatan. Sayangany ide dari sekretarisjurusan
ini kurang realisasi kepada para mahasisiwa khususnya pada anggakatan semester
kami. Dan hasil dari kurangnya sosialisasi tersebut membuat kami satu anggkatan
meresa dipermainkan. Bagaimana tidakcoba bayangkan saja, jika satu kelas diisi
oleh lebig dari 50 mahasiswa.
Sedikit ganjalan
ini adalah awal pertemuan kami. Kelasku menjadi kelas raksasa yang memuat
banyak mahasiswa. Justru disini awalnya aku bertemu dengan Eline, ya Eline
salah satu mahasiswi yang mengalami
akibat perpindahan kelas gara-gara kebijakan baru tersebut. Mau tidak mau semua
berubah, bercampurnya 2 kelas dalam satu kelas. Inilah kesalahan yang
seharusnya dijadikan pelajaran untuk semester berikutnya.
Awalnya seh
kondisi ini sangat tidak nyaman bahkan terlalu wow, bagi ku. Namun dengan
seiring berjalannya waktu, kondisi ini jadi terliihat biasa. Apalagi setelah
aku tahu kalo ternyata ada beberapa anak cewek yang manis dan cantik dari
tetangga sebelah, sebagian seh dah kenal namun beberapa merupakan wajah baru
yang ku kenal, yah meskipun kami tetangga namun kami jarang ketemu dan saling
mengenal.
Baiklah inilah
mula permasalahan dan kenapa hingga malam ini aku sulit untuk memejamkan mata.
Ada salah saru cewek yang memang seh wajahnya mirip dengan teman SMA ku dulu,
dan kebetulan juga kami bisa satu kelompaok dalam bebrapa mata kuliah dan
karena aku juga mempunyai posisi yang strategis makan perkenalan pun terjadi.
Tukar nomor hp pun terjadi dan komunikasi sedikit demi sedikit terjalin.
Situasi iniliah yang membuat aku mempuanyai perasaan kepada Eline. Pernah suatu
malam aku jemput dia, untuk sekedar manghibur diri jalan-jalan ke kampus. Aku
jemput dia di kostnya. Dia pun seolah memberi sinyal positif untuk aku deketin,
ok pucuk dicinta ulam pun tiba.
Lama-kelamaan
hubungan kami semakin dekat. Namun entah kenapa sejak makan bersama bulan lalu,
dengan anak-anak kami seolah gimana gitu, mungkin aku sendiri yang terlalu lama
untuk membicarakan ini kapada Eline, atau mungkin juga ada suatu haal yang
mencurigakan menurutku. Dari info temen dekatnya seh, si Aida kalo Eline masih
jomlo, namun aku sedikit curiga karena Eline kok begitu dekatnya dengan Fadil
seolah mereka mempunyai hubungan iatimewa yang sengaja mereka rahasiakan.
Pukul 23.14
mataku masih belum terpejam mengingat semua peristiwa yang telah berlalu. Oh
Tuhan kenapa hubungan cintaku dengan Eline bisa ruwet seperti ini, peristiwa
tadi pagi. Pengakuan 3 minggu lalu saat aku coba beranikan diri mengutarakan
isi hati padanya dan memberikan hadiah sebuah novel. Ya semoga itu bisa jadi
kenangan indah untuknya. Eline, mungkin memang membiarkanmu menjauh lebih baik
daripada harus berpura-pura saling mencintai.
Selamat malam semoga engkau bahagia dengan jalan yang kau pilih.
0 comments:
Post a Comment